reflection

June 29, 2011

c'mon smile! :)
:source:

Baru saja selesai membaca blog teman yang paling saya sukai dan paling sering saya kunjungi. Blog milik seorang teman yang "nggak sengaja" ketemu lewat blog yang sebelumnya saya tahu dia dari profile facebook salah seorang teman saya Aj Prameswari , dia adalah Hansbrownsound. hehe saya nggak tahu betul siapa nama lengkapnya, siapa dia, lahir dimana tinggal dimana, yang saya tahu tulisannya menarik dan saya sangat meyukainya. Sekilas saya melihat-lihat blognya, hmm.. selalu update, mungkin dalam seminggu kak Hans bisa menulis lebih dari 3 kali. haha. Saya suka tulisan terbarunya, tentang kesetiaan seorang kuli bangunan bernama Zulkarnain dan istrinya Rasidah. Ini Link tulisannya check!. Dramatis, ironis... Mungkin memang benar, kemunafikan dan penghianatan tak kenal jaman, sampai kapanpun keduanya akan selalu ada. Entah pada zaman sebelum masehi saat Julius Caesar berkuasa, pada masa Kekhalifahan, pada masa sekarang saat Amerika tiada duanya, atau masa-masa yang akan datang saat semua orang telah "mati" dibodohi oleh teknologi. Well, bicara tentang teknologi saya nggak mau bahas, bagaimanapun juga saya adalah penikmat dan pecinta teknologi. Kembali pada masalah kesetiaan, Ironis memang kalau kita lihat jaman sekarang ini. Banyak orang kawin-cerai layaknya Anak muda menyewa CD di rental Video tepi jalan. Banyak orang bilang "aku cinta kamu", "aku kangen kamu", "aku cinta kamu sampai mati", dan parahnya itu nggak cuma diucapin sama satu orang dan bahkan kalimat sakral itu diucapkan pada saat setengah sadar. saya memang nggak begitu paham tentang cinta atau segala sesuatu yang menghiasi rasa ini, atau bisa dibilang saya nggak tau sama sekali. Tapi miris rasanya, melihat kata cinta diumbar dimana-mana, dan kemudian berakhir hanya diatas ranjang saja kemudian berakhir untuk selamanya. Benar-benar merupakan pelecehan besar terhadap cinta.

Oke, lupakan saja tentang cinta yang saya nggak tau mau ngomong apa lagi tentangnya. Takut kebanyakan ngomong tapi nggak ada isinya. Mungkin.. tentang arti kesetiaan saya cukup mengerti daripada tentang cinta. Saya mencoba bercerita sepertinya layaknya Kak Hans bercerita, tapi pastilah.. saya nggak bisa sehebat dia, karena saya cuma anak kecil yang nggak tau apa-apa yang iseng punya blog dan menulis sesukanya. Bicara soal kesetiaan. Hal ini sungguh sangat erat dengan kehidupan saya. Bagaimana tidak, di dekat saya saat ini ada seorang lelaki paruh baya yang hampir tua, yang rela hidup hampir 20 tahun tanpa cinta. Atau mungkin sudah lebih dari 20 tahun lamanya.


Sewaktu muda, sebut saja namanya Ed, hidup sederhana, atau mungkin bisa dibilang kekuranganlah. Maklum, Ayahnya hanya bekerja sebagai Guru dan terpaksa harus diberhentikan secara paksa karena peristiwa sadis tahun '65, dan Ibunya hanya sebagai ibu rumah tangga yang kadang-kadang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di tempat tetangga. Bisa dibayangkan, pada tahun 60 an, di desa kecil pada kabupaten yang juga sangat kecil di bawah kaki gunung di ujung Provinsi Jawa Timur, sama sekali belum ada teknologi. Listrik pun belum ada, apalagi BB, Ipad atau semacamnya. Ed kecil tumbuh sebagai anak yang cerdas, dia adalah anak kedua dari 6 bersaudara. Kakaknya yang 2 tahun lebih tua darinya, sedikit arrogan dan mau menang sendiri. Sehingga saat berangkat sekolahpun, sang kakak mengendarai sepeda motor Honda merahnya, dan Ed pergi mengayuh sepeda Onta warisan dari kakeknya. Ed kecil sering membantu dua orang tuanya, menggembala kerbau, mencari kayu bakar, dan banyak hal berat yang ia lakukan sebagai anak kecil. Ed sangat menyayangi kedua orang tuanya, bisa dibilang diantara 6 bersaudara, hanya ia yang menunjukkan rasa sangat cintanya kepada ayah dan ibunya. Setelah lulus SMA, Ed diterima di perguruan Tinggi negeri di Bogor, betapa senangnya Ed yang mulai beranjak dewasa ini mendengar kabar tersebut. Jerih payahnya selama ini terbayar juga, meski harus belajar sambil menggembala kerbau dan mengahafal sambil menanam padi.Namun lagi-lagi keberuntungan tak memihak kepadanya, Ayah Ibunya bangkrut dan terlilit hutang sehingga Ed harus membatalkan kehadirannya di Institut itu. Menghancurkan mimpi-mimpi besarnya dan menambah lagi penderitaan hidupnya. Melihat keadaan orang tuanya yang kesulitan, Ed berusaha membantu mereka dengan mencari pekerjaan, Kakaknya yang 2 tahun lebih tua, sudah terlanjur tercatat sebagai mahasiswa teknik nuklir di Universitas besar di Yogyakarta, sementara 4 adiknya semuanya masih berada di bangku sekolah dan pastinya butuh banyak biaya untuk pendidikan mereka. 

Begitulah Ed, dengan semangatnya yang tinggi, ia merantau ke Jakarta, mengadu nasib entah nantinya jadi apa. Bertahun-tahun ia disana, bekerja seadanya.. mulai dari pelayan rumah makan, tukang pel restoran, dan pada akhirnya.. ia bersekolah hingga tamat D3 sebuah sekolah pertambangan, kemudian bekerja di sebuah perusahaan pertambangan minyak. Ed dewasa kini, ia sudah cukup duit untuk membiayai adik-adiknya, memperbaiki rumah orangtuanya, membelikan tambahan ternak untuk ayahnya dan banyak hal yang ia lakukan. seolah-olah ia ingin meledak dan membayar semua penderitaannya selama ini. Ed sudah berumur 28 tahun, sehingga ia sendiripun lupa bahwa belum pernah ada seorang wanita pun yang sempat singgah di hatinya. Bagaimana tidak?, sewaktu kecil, Ed hanya anak ingusan miskin tak punya apa-apa, dan sekarang ia hanya selalu disibukkan oleh pekerjaannya yang tiada hentinya.

Beruntunglah Ed, bahwa ternyata di kampung, ada seorang tetangga yang memintanya pulang untuk dijodohkan dengan gadis cantik dari desa seberang. Ed pulang, bertemu dengan gadis itu, suka, dan dalam waktu 3 bulan saja merekapun menikah. Ed dan istrinya memulai hidup baru, berkeluarga. Mereka hidup bahagia, pada tahun pertama pernikahannya Ed dikaruna seorang putri cantik yang sehat. Sungguh, hidup Ed serasa sempurna. Mungkin selama hidupnya tak pernah ia merasa sebahagia itu. Hidupnya berjalan dengan mudah, bahagia dan penuh dengan cinta. Pada tahun kedua pernikahannya, istrinya mengandung lagi, dan Ed sungguh sangat bahagia mengetahui bahwa ia akan memiliki buah cinta yang kedua. Mereka berdua dengan suka cita menunggu kehadiran anak keduanya itu.

Namun.. keadaan berkata lain, Memasuki tahun ketiga pernikahan mereka, istrinya melahirkan anak keduanya. Dan tahun itu adalah tahun terakhir Ed bersama-sama dengan keluarganya, Tahun terakhir ia merasakan keberadaan istrinya. Karena Istrinya telah pergi untuk selama-lamanya demi buah cinta kedua mereka, seorang anak perempuan yang sehat. Perasaan Ed saat itu benar-benar tak ada yang tahu, sungguh benar-benar hancur. Mungkin hatinya sudah menjadi serpihan kecil hingga tak berasa lagi. Airmatanya pun telah mengering dan enggan untuk keluar lagi. Selama ini ia hidup penuh dengan perjuangan, kekerasan... dan tiga tahun terakhir ia merasakan kebahagiaan yang tak terkira, kemudian tiba-tiba saja hilang, musnah, dan tak akan kembali lagi. Ed sempat menyalahkan tuhan atas keadaannya. Berulang kali ia marah pada tuhan atas apa yang dialaminya. Ed merasa, dirinya adalah satu-satunya orang sangat menyedihkan.

Hari berganti, Bulan berganti dan Tahun-tahun berganti, Ed melewatinya sendiri tanpa siapa-sipa disampingnya. Mungkin hatinya terlanjur sakit dan tak mau menatap dunia dengan cinta, atau tak mau lagi banyak berharap. Kedua putrinya dibesarkan oleh ayah dan ibunya, sekarang mereka telah tumbuh dewasa. Ed beranjak tua, tanpa ia sadari, ia telah melewati 20 tahun kesendiriannya. Selama itu tak jarang ia menangis sendiri di kamarnya, atau hanya marah tanpa sebab kepada dirinya sendiri, pada orang lain atau entah pada siapa. Selama 20 tahun itu pula ia masih belum bisa melupakan kebersamaan singkatnya yang hangat bersama istrinya Istrinya yang tak pernah dikenalnya sebelumnya, istrinya yang hanya 3 bulan ia temui kemudian menikah, istrinya yang hanya 3 tahun saja bersama. Namun mungkin cintanya pada istrinya itu tak akan hilang hingga 300 tahun lamanya. Selama ini, Ed menjalani hidupnya sendiri, hingga kata-kata ini sering ia ucapkan saat orang lain hendak menemaninya,
" Tidak apa-apa, saya sudah biasa sendiri kok. Mungkin saya memang ditakdirkan untuk selalu melakukan apa-apa sendiri"
Ed berusaha terus tegar, semua orang tahu ia menderita. Semua orang tahu, hanya ada satu orang yang sangat ia cintai di dunia ini. Istrinya.. selama-lamanya.
"Jangan tanyakan padaku tentang arti Cinta, Karena cintalah aku mendapatkan segalanya, dan karena ia pula aku terhempas jauh ke tanah dan kehilangan semua yang aku miliki di dunia" -Ed
Kau bisa simpulkan siapa Ed?? Dia adalah lelaki terhebat dalam hidupku selama ini. :)

You Might Also Like

1 COMMENT