Politik?

December 10, 2011

Berlayarlah di laut keringat kami
Tertawalah di laut keringat kami
Berselancarlah di laut keringat kami
Perpesiarlah di laut keringat kami

Bergerak, bergerak, tetap bergerak, menderap langkagh, merapat barisan
Bergerak, bergerak, tetap bergerak
Berat kita junjung, ringan kita jinjing
Bergerak, bergerak, tetap bergerak
Berlumur keringat dan air mata

Berlayarlah di laut keringat kami
Tertawalah di laut keringat kami
Berselancarlah di laut keringat kami
Perpesiarlah di laut keringat kami

Bersabar, bersabar kita sejak dulu
Amuk kita timbun, munjung bagai gunung
Bersabar, bersabar kita sejak dulu
Amuk kita tunda, gunung tak meletus
Bersabar, bersabar kita sejak dulu
Sejak dulu nahan sejuk bagai gunung

Pesta poralah di gunung kesabaran kami
Dansa dansilah di gunung kesabaran kami
Injak-injakkan kakimu di gunung kesabaran kami
Buang botol-botol minummu di gunung kesabaran kami

Bersabar, bersabar, sampai habis sabar
Sabar jadi riak, riak jadi ombak
Bersabar, bersabar sampai habis sabar
Bergelora gelora begunung gunung ombak
Gulungan gelombang keringat tangisan kami

Hati-hati jangan kau terlena di laut tangis kami
Hati-hati jangan kau ha ha hi hi di laut keringat kami
Awas, awas, awas di gunung kesabaran kami
Mawas mawas dirilah di gunung kesabaran kami.

-Sujiwo Tejo-
Mereka memangku tangan, duduk di bangku cokelat dari kayu jati. Sepatunya mengkilat, bercelana kain hitam, berbaju cokelat. Mereka meneriakkan riak-riak gembira atas dirinya. Mereka meminta kita untuk berada pada pihak mereka. Hingga tak kulihat jelas, perbedaan antara permintaan dan pelayanan yang ingin mereka berikan, ataukah aku saja yang salah lihat.


Aku hanya anak pedagang tomat, yang sekolah dasar saja tak tamat. Bahkan aku tak bisa pergi ke suatu tempat tapa alamat. Entah, aku tak mengerti mengapa aku bodoh sekali. Aku berjalan di trotoar jalan protokol, mengenakan caping kumal, yang rotannya sudah jebat, bersandal jepit dengan warna yang berbeda, maklum aku hanya meungutnya kemarin di tempah sampah di samping rumah konglomerat. Sepanjang jalan aku melihat banyak baliho, spanduk atau sekedar poster yang ditempel di tiang listrik.


Tiap poster memajang wajah manusia yang berbeda, nomor yang berbeda dan dengan gaya yang berbeda pula. Nampaknya kebanyakan dari mereka orang yang punya banyak uang, atau jika pun mereka tak punya pastilah ini adalah salah satu cara mereka mendapatkan uang. Jika aku dulu mengikuti apa kata Mamat sahabatku untuk melanjutkan sekolah, pastilah aku tidak hidup hina seperti ini. Menguak sampah setiap hari.


Mereka bilang aku kurang bekerja keras, kurang bersyukur dan sebagainya. Tapi aku rasa aku sudah melakukannya, aku bangun setiap jam 3 pagi, sholat kemudian pergi keliling kota, mengangkut sampah-sampah mereka. Aku lakukan setiap hari hingga matahari terbenam, namun aku tak kunjung kaya, atau sekedar punya rumah yang layak saja.

mereka yang ada di balik baliho itu, aku tahu mereka bahkan jarang bangun jam 3 pagi. Bukan tidak mungkin mereka membuang sampah sembarangan, mereka berkeliling kota dengan mobil mewahnya, dan pulang sebelum matahari terbenam. Namun penghasilannya sebulan adalah penghasilanku selama sepuluh tahun.


Di poster itu mereka meminta kami untuk memilihnya, dia ucapkan banyak kata-kata, yang biasanya sama saja. Menjamin, memperjuangkan dan lain sebagainya. Namun ujung-ujungnya sama saja.

Aku hanya anak pedagang tomat, sekolah dasar saja tidak tamat, kalau saja aku mendengarkan apa kata mamat, mungkin aku telah menjadi konglomerat.


Mereka punya hak untuk dipilih, dan aku juga. Namun siapa aku? semut saja enggan untuk mengenalku. Baiknya, aku menggunakan hakku dengan benar. Aku orang yang tidak sabar, bahkan untuk belajar. Apalagi untuk mengenal mereka orang-orang pintar. Satu kesimpulan yang aku dapatkan atas ketidak tahuanku tentang semuanya, tidak memilih adalah salah satu cara menggunakan hak pilih yang tidak dianggap salah.

You Might Also Like

0 COMMENT