Alika (Sourire) sang Pelukis Senyuman

June 28, 2013


Alika percaya bahwa manusia tidak mungkin memiliki sayap dan terbang untuk dapat menggapai awan. Ia hanya bisa melihat keatas saat hari cerah, memandang awan yang terus bergerak dengan bentuk yang mermacam-macam. Alika selalu menghabiskan waktunya di kebun belakang, kebun yang luas, hanya berupa padang rumput dan beberapa semak belukar kecil.
Sejak kecil, Alika selalu bermimpi untuk dapat pergi ke atas awan. Ia selalu beranggapan bahwa ada dunia lain di atas awan yang tidak diketahui oleh semua orang. Ia pernah berpikir bahwa di awan ada kerajaan yang besar, yang dipimpin oleh seorang ratu yang cantik jelita. Kerajaannya berwarna putih dengan gerbang besar yang terbuat dari emas. Sang ratu berambut panjang dan indah, tinggi dan berkulit putih. Sang ratu selalu mengenakan gaun berwarna putih layaknya gaun pernikahan. Setiap hari, yang dikerjaan warga kerajaan sama dengan yang dikerjaan orang-orang di bawah awan. Mereka bersekolah, mereka bekerja, mereka bernyanyi, bermain layaknya manusia-manusia di bawah awan. Ada satu hal dalam imajinasi Alika yang membedakan orang-orang kerajaan awan dengan orang-orang di bawah awan, yaitu bahwa orang-orang di atas awan memiliki sayap.
Alika juga pernah berpikir, bahwa orang-orang awanlah yang memberikan hujan pada orang-orang di bawah awan, sehingga tumbuh-tumbuhan bisa hidup dengan subur. Alika menganggap, pohon-pohon besar dan tinggi adalah kendaraan bagi orang-orang awan untuk dapat turun ke bumi dan menyebarkan benih, sehingga bumi tidak pernah kekeringan. Cerita jack dan pohon ajaib menurut Alika adalah benar, bahwa di atas awan ada seorang penunggu gerbang kerajaan awan yang bertugas melindungi kerajaan awan dari orang-orang di bawah awan.
Pohon Redwood, adalah pohon bumi yang sangat tinggi, dalam imajinasinya, Alika beranggapan bahwa pohon inilah yang menghubungkan dunia awan dengan dunia bawah awan.
Suatu hari Alika melakukan kegiatan rutinnya, berbaring di rumput di kebun belakang, memandang awan yang bergerak perlahan dan tetap mengawasinya. Ia berharap akan ada anak kecil yang mengintip dari atas awan. Ia melihat seluas matanya memandang ke atas, awan-awan itu membentuk benda-benda aneh. Bulat, persegi, berbentuk kepala macam, berbentuk balon, dan macam-macam. Namun di tempat yang cukup jauh terdapat awan dengan bentuk yang berbeda, jaraknya tepat sepanjang hidupng Alika jika ia melihat dengan posisi berbaring. Awan itu berwarna putih cerah, membentuk seperti cakram dan tebal. Alika penasaran, ia beranjak dari tidurnya, melihat sekeliling dan mencari bebatuan kecil. Ia mencoba melempari awan itu dengan bebatuan, tapi taka da yang sampai ke atas. Berkali-kali Alika mencoba melempari awan itu, tapi tak juga sampai pada awan. Hingga saat ia ingin melempari awan itu, sudah tidak ada lagi bebatuan di sekelilingnya. Alika tidak kehabisan akal, ia melepas jepit rambutnya dan melemparnya ke awan, namun tak juga sampai. Hingga hari sudah senja, Alika pun pulang.
Esok harinya, Alika kembali ke kebun belakang. Kembali ia mengamati langit seolah tidak ada kata bosan dalam kamusnya untuk terus mengawasi orang-orang awan. Angin sepoi-sepoi membuat Alika sedikit mengantuk, sayup-sayup matanya terpejam. Sungguh indah suasana seperti ini.
“Tukk…!”, benda aneh menimpa kepala Alika, ia terperanjat sambil mengusap-usap kepalanya. Sebuah jepit rambut miliknya yang ia gunakan untuk melempari awan jatuh entah darimana datangnya. Alika terheran-heran, bagaimana bisa jepit rambut yang ia lempar entah kemana bisa kembali padanya lagi.
Alika mengawasi langit, matanya mengarah pada tiap-tiap gumpalang awan di atas kepalanya.
“Hei ratu awan! Apa kau yang melempar jepit rambut ini?!”, Alika berteriak kea rah awan.
Tidak ada jawaban, hanya terdengar angin berhembus dan suara daun-daun yang saling bersentuhan. Alika berbalik badan, ia hendak kembali ke rumah karena kesal. Tiba-tiba ada yang melemparinya dengan batu berkali-kali. Alika kesal dan berbalik badan seraya berteriak, “Sebenernya apa maumu manusia awaaan!!!”
Tiba-tiba angin berhembus kencang, pohon-pohon bergoyang. Alika diterpa angin, suasana gaduh, Alika memejamkan matanya dan membungkuk tersungkur ke tanah.
Suasana sudah tenang, Alika membuka matanya, yang pertama kali ia lihat adalah rumput yang hijau berubah menjadi putih seperti salju, ia kemudian bangkit. Alika terbelalak, matanya tak berkedip, mulutnya menganga keheranan. Jantungnya berdegup kencang, tak percaya apa yang ia lihat di hadapannya. Sebuah kerjaan putih yang besar dengan gerbang yang tinggi terbuat dari emas, orang-orang berlalu-lalang menaiki kuda bersayap. Mereka berkulit putih bersih seputih salju. Alika memutar tubuhnya, ia tak percaya apa yang ia lihat, diusap matanya berkali-kali, dan dicubit pipinya berkali-kali. Ia tidak sedang bermimpi kali ini.
“Selamat datang Alika, sang gadis pencipta kami”, suara lembut dari belakang mengagetkan Alika dan membuatnya berbalik badan dengan terkejut. Perempuan berambut indah berkulit putih dan bergaun putih seperti pengantin berada di hadapannya. Mirip seperti apa yang ia bayangkan selama ini. Alika masih terbelalak, masih tak bisa menutup mulutnya keheranan,
“Selamat datang Alika, kau baik-baik saja akan?”, perempuan itu menyentuh Alika dengan lembut, Alika terperanjat. “Jangan takut Alika, aku adalah ratu awan, dan ini adalah negeri awan. Kami ada karena kau telah menciptakan kami dalam imajinasimu”, ucap wanita itu dengan lembut menjelaskan pada Alika.
“A…aku… me…mencip-ta-kan…kalian?”, Alika terbata-bata keheranan.
“Ya Alika, kami adalah imajinasimu, kami ada karena engkau yang menciptakannya. Namun kini, kami telah lahir dalam kenyataan dan hidup layaknya manusia di bawah awan”, ucap Ratu awan.
“Manusia di bawah awan?”, Alika keheranan. Ratu awan menggandeng tangan Alika, mengajaknya ke tepi lantai yang berbatasan langsung dengan lagit biru, membungkukkan badan Alika perlahan dan meintanya melihat ke bawah.
Alika terperanjat keheranan, ia terkejut bukan main. “I…itu… ru.. rumahkuu!!”, teriak Alika. “ Aku di atas awan??!!!”, Alika bertanya dengan sangat keheranan. Ratu Awan mengangguk.
“Mari masuk ke dalam rumah kami. Kami akan memberikan pelayanan terbaik kami pada pencipta kami”, Ratu Awan menggandeng Alika, kemudian mengepakkan sayapnya, dan terbang. Lagi-lagi Alika keheranan, manusia di hadapannya memiliki sayap. Sayap itu berwarna putih transparan, indah berkilauan diterpa sinar matahari, dan yang paling sempurna, sayap itu bukanlah sayap bohongan seperti yang Alika lihat di teleivisi.
Alika tiba di gerbang kerajaan. “Bvoderoyh”, sang ratu mengucapkan mantra dan pintu gerbang pun terbuka. Alika melihat ke sekitar,semua putih, dan indah. Sang ratu membawa Alika ke dalam kastil, semua perabot berwarna putih, sungguh menabjubkan. Kedatangan Alika disambut hangat oleh orang-orang awan, mereka melayani Alika dengan sabar dan memberikan jamuan yang terbaik. Alika dapat meminta apapun yang ia mau disana. Banyak makanan manis yang dihidangkan, semuanya tampak enak, Alika tak bisa menahan dirinya.
Beberapa hari berlalu, Alika mulai merasa nyaman tinggal di negeri awan, atau justrsu sangat nyaman. Setiap hari, Alika diperlakukan bak ratu, dan bahkan jauh lebih baik dari ratu awan sekalipun. Ia dilayani oleh ribuan dayang, tidur di kasur awan yang lembut dengan selimut kabut putihnya yang lembut. Alika sangat menyukai suasana senja di negeri awan, warna awan yang semula putih bersih menjadi kuning kemerahan, sangat indah, dan pada saat senjalah orang-orang awan bekerja untuk memindahkan matahri kebagian bumi yang lain. Mereka memutar matahari bersama-sama. Di negeri awan, matahari dan bulan adalah benda yang sama dengan dua sisi yang berbeda, dan orang-orang awanlah yang bertugas untuk mengubahnya, dari siang menjadi malam. Orang-orang awan sangat sibuk, saat musim hujan, orang-orang awan harus mengecat awan yang berwarna putih menjadi keabu-abuan, atau bahkan hitam pekat. Dahulu, sebelum ada alat yang diciptakan oleh ilmuwan negeri awan. Para pekerja pengecat awan harus terbang mengecat awan kesana-kemarI. Namun kini orang-orang awan hanya tinggal menyiramkan cat tersebut dengan bantuan alat yang canggih, hingga dengan cepat awan putih berubah menjadi abu-abu dan kehitaman. Orang awan juga bekerja memindahkan air dari bumi kea wan, kemudian mengguyurkannya kembali ke bumi. Petir yang selama ini Alika takuti ternyata adalah suara ember besar yang dijatuhkan di awan hitam, hingga airnya jatuh ke bumi. Sedangkan kilat sebenarnya adalah lampu dari ketua pekerja sebagai tanda atau isyarat bagi pekerja untuk menjatuhkan air ke bawah. Di negeri awan, peristiwa hujan adalah sebuah pertunjukkan, dimana pekerja akan menunjukkan kepiawaiannya dalam mencipatakan hujan. Pekerjha yang dapat menciptakan awan paling pekat dan hujan paling deras akan mendapatkan hadiah dari ratu awan. Alika mengetahui banyak hal yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya. Ia sangat menikmati keberadaannya di negeri ini.
Suatu hari Alika berjalan-jalan di sekitar kastil awan. Ia melihat sebuah kolam, seperti kolam ikan, yang berada di belakang kastil. Alika mendekati kolam tersebut, dan menengok ke bawah. Alika terkejut, ia melihat keluarganya di dalam kolam. Ibunya menangis di dalam kamar, sementara ayahnya terbaring di ranjang. Alika mulai gusar, ia bisa melihat dengan jelas wajah ibunya yang begitu sedih. Ayahnya seperti sedang sakit keras. Alika berlari memasuki kastil dan menemui ratu awan.
”Ratu, bisakah kau membawaku turun ke bumi sekarang? Ayahku sedang sakit dan ibuku sangat sedih. Aku ingin menjenguknya sekarang juga”, Alika memohon pada ratu awan.
Ratu awan terdiam, kemudian bertanya, “Darimana tuanku Alika mengetahui, bahwa ayahmu sedang sakit dan ibumu sedang sakit?”
“Dari kolam di balik kastil. Aku dapat melihat dengan jelas kondisi ayah dan ibuku di bumi.”
Ratu awan terbelalak, kemudian menghela nafas. “Kolam di belakang kastil adalah kolam yang berisi air pikiran. Air itu berasal dari pikiran-pikiran manusia yang ada di bumi, sehingga dengan mudah kami dapat mengawasi mereka darisini. Apa yang sedang engkau pikirkan saat ini adalah keluargamu, maka kondisi ayah dan ibumu lah yang nampak pada air kolam tersebut.”, jelas ratu awan.
“Aku memintamu untuk membawaku pulang sekarang!”, Alika meminta dengan nada menyuruh pada ratu awan, ia sudah tidak sabar.
“Ada hal yang harus tuanku perhatikan, jika engkau kembali ke bumi, untuk melihat kondisi keluargamu, maka kau tidak akan pernah bisa kembali ke sini. Begitu pula dengan ingatanmu, semua yang engkau alami disini akan hilang dank au tidak akan mengingat apa-apa lagi”. Ucap ratu awan menjelaskan.
Alika terdiam kebingungan. Alika sungguh menyukai kehidupan di atas awan, kehidupan yang nyaman dan aman. Kehidupan yang penuh kedamaian, tidak ada perang, tidak ada kekerasan, seperti sebuah kehidupan yang kata orang-orang bumi disebut surga. Namun Alika harus memilih, kehidupan yang indah ini tanpa ayah dan ibunya, ataukah kembali ke bumi dengan segala kemelut kondisi bumi.
“Beri aku waktu hingga senja, aku akan memutuskan”, pinta Alika pada ratu awan. Ratu awanpun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Matahri mulai meninggi, tanda menjelang senja. Para pekerja awan telah bersiap pada posisinya masing-masing untuk membalikkan matahari menjadi bulan. Alika berjalan ke ruangan ratu awan.
“Bagaimana tuan? Kau telah memutuskan?, Tanya ratu awan.
“Ya, sudah ku putuskan. Aku akan tetap tinggal dengan satu syarat”
“Sebutkan!”, ratu awan tersenyum lembut pada Alika
“Berikan aku sayap dan kehidupan yang kekal disini. Berikan aku tugas untuk menciptakan senyum pada manusia dan juga membantu mereka.”, pinta Alika pada ratu awan
“Baiklah. Namun aku juga mengajukan syarat untukmu, Alika”
“Syarat? Syarat apa yang kau ajukan wahai ratu?”, Tanya Alika keheranan.
“Permintaanmu akan aku penuhi semua. Namun kau harus merlakan ingatanmu kepada negri awan. Semua ingatanmu tentang manusia akan hilang. Dan kau akan menjadi seperti kami”, Ratu awan memberikan tawaran pada Alika. Alika terdiam cukup lama, namun keputusannya tak berubah, ia mengangguk perlahan tapi pasti. Dan saat itu juga ia melupakan ingatan tentang keluarganya, tentang kehidupannya di bumi. Namanya berubah menjadi Sourire yang artinya adalah senyuman. Alika bertugas turun ke bumi setiap kelahiran bayi, pernikahan, ulang tahun dan keadaan lain yang penuh dnegan senyuman. Ia bertugas melukis senyum pada paras manusia. Ia memiliki sayap berwarna putih keperakkan, berpakaian putih keunguan layaknya pengantin dan membawa tinta ajaib yang dapat menciptakan senyum. Alika tidak bekerja sendirian, ia dibantu oleh teman-temannya dari negeri awan yang setiap hari turun ke bumi melukiskan senyuman pada manusia. Ia juga pernah melukiskan senyum pada ayah dan ibunya yang saat ini sama sekali tak ia kenal. Ia hanya bekerja sesuai tugasnya, ia tak pernah mengeluh dan tak pernah marah karena hal itu tak pernah ada di negeri awan. Alika saat ini sudah tiada, hanya ada Sourire sang pekerja awan yang menciptakan senyum pada setiap manusia yang ada di bumi. Karena senyum manusia, bukanlah sebuah kebetulan atau kebiasaan, mereka diciptakan oleh orang lain, dan sourire-lah yang melukiskannya pada setiap paras manusia yang ada di bumi. (nine)

You Might Also Like

0 COMMENT