zoete koffie

June 27, 2013



Keramaian nampak terlihat di kedai kopi “zoete koffie”.  Kedai kopi ini memiliki belasan menu kopi dari berbagai Negara dengan berbagai variasinya. Selain itu kedai kopi ini juga menyediakan minuman-minuman hangat ataupun dingin, serta kue dan makanan ringan, sehingga kedai ini tidak pernah sepi dari pengunjung. Beberapa pekerja kantor selalu mengunjungi kedai kopi ini pada jam istirahat atau pada jam pulang kantor. Biasanya, mereka hanya sekedar membeli secangkir minuman dan duduk berjam-jam untuk ngobrol atau bahkan membahas masalah pekerjaan.
Suatu hari, datanglah seorang pemuda dengan setelan rapih, memakai jas abu-abu dan dasi berwarna biru gelap lengkap dengan fantofelnya. Ia berjalan masuk ke dalam kedai dan duduk di kursi di dekat jendela. Ia nampak sedang menunggu seseorang. Beberapa saat kemudian, ia memanggil pelayan dan memesan dua cangkir kopi hitam, tak lama kemudian minuman pun datang. Beberapa saat setelah pesanannya datang, seorang wanita dengan setelan kantor dan membawa beberapa map datang dan duduk di hadapannya. Wanita itu nampak lelah sekali, seperti wajah kota lainnya, wanita itu nampak terburu-buru.
“Sudah lama?”, Tanya wanita itu pada si pemuda.
“Hanya ebberapa menit”, jawab pemuda itu singkat.
“Kau memesankanku kopi ini”, dengan nada agak terkaget wanita itu bertanya sambil menunjuk hina pada kopi yang asapnya masih mengepul di depannya.
“Ya, kau pasti lelah, maka aku pesankan kau secangkir kopi”, sambil tersenyum pemuda itu menjawab.
Wanita itu nampak sedikit kesal, ia menghela nafas tanpa menyentuh minuman yang ada di hadapannya. Beberapa menit berlalu setelah wanita dan pemuda itu bercakap-cakap, kemudian berakhir setelah wanita itu mendapat sebuah telpon dari atasannya. Dengan tergesa-gesa, wanita itu meninggalkan sang pemuda tanpa menyentuh kopi yang dipesankannya. Pemuda itu nampak kecewa, ia pun meninggalkan kedai sambil meninggalkan uang di meja, tanpa meminum kopi pesanannya.
Dari seberang meja, vanilla tertawa terbahak-bahak, mengejek si kopi yang masih penuh dan mengepul di atas meja yang ditinggalkan oleh pemesannya.
“Kasihan sekali dirimu, disentuhpun tidak. Percuma mereka membayar tanpa menikmati rasa pahitmu itu”, ejek vanilla pada kopi.
Kopi terdiam sejenak, kali ini vanilla benar, namun dengan kesal ia menjawab,“Diam kau vanilla, meskipun pahit aku memiliki rasa yang dapat menentramkan pikiran manusia”
“Menenangkan bagaimana? Bukankah barusan kau membuat seorang wanita meninggalkan pemuda itu sendirian di kedai?. Lihatlah aku, berada pada dua manusia yang saling mencinta, mereka tertawa manis karena telah menikmati diriku yang manis”, cangkir vanilla tertawa congkak.
“Baiklah vanilla, mari kita buktikan dalam satu bulan ini, jika kau lebih banyak dipesan oleh manusia, maka aku akan membuat barista gagal setiap ada orang yang memesanku. Jika kau yang gagal, maka rasa manismu akan hilang, melainkan akan menjadi masam. Apa kau berani menerima tantanganku?”, cangkir kopi mengancam cangkir vanilla.
Cangkir vanilla kaget mendengar ucapan cangkir kopi, namun iya mengiyakan tantangan cangkir kopi, ia yakin bahwa ia akan menang. “Tantanganmu aku terima, karena akulah yang pasti menang”.
Keesokan harinya, tantangan dimulai. Si Kopi dan si Vanilla bertarung mendapatkan perhatian manusia dengan menampilkan penampilan terbaiknya dalam setiap cangkir. Vanilla sekuat tenaga mengeluarkan kemampuannya untuk menghasilkan bau harum yang dapat menarik perhatian manusia, begitu pula dengan kopi, ia berusaha mengeluarkan bau terharumnya setiap manusia memesannya.
Selama perjalanan dari bar menuju meja pesanan, kopi menarik perhatian manusia, asapnya mengepul seolah memberikan rayuan pada hidung manusia, dan trik itu berhasil. Hari berganti, persaingan antara kopi dan vanilla semakin sengit. Pada minggu pertama, kopi dan vanilla ada minuman yang paling sering dibeli oleh manusia. Hal ini membuat beberapa minuman menjadi khawatir.
“Akhir-akhir ini, aku hanya berdiam diri di toples, aku tidak bekerja sama sekali. Apakah pemilik kedai akan membuangku ya?”, ucap teh pada teman-teman minuman yang lain dalam toples yang berjajar disampingnya.
“Semua ini karena persaingan antara kopi dan vanilla. Aku jadi khawatir kita tidak akan dikenal orang lagi di kedai ini”, jawab coklat.
“Iya kalian benar, kita harus segera menghentikan ulah kopi dan vanilla. Kalau pertarungan ini terus berlanjut, bisa-bisa kita tidak akan pernah dikenal oleh pengunjung kedai ini”, jahe, sirup, susu, dan teman-teman minuman lain bersorak, mereka sepakat akan menghentingan pertarungan antara kopi dan vanilla.
Suatu sore, pada hari ke-20 pertarungan kopi dan vanilla, pemuda yang pernah memesan kopi datang ke kedai. Kali ini ia berbusana santai, bercelana jeans dan berkaus polo shirt. Ia memeasuki kedai dan duduk di kursi yang sama. Tak lama kemudian datanglah seorang wanita yang sama saat pemuda itu memesan kopi, memakai daster selutut dengan bolero merah jambu yang cantik, ia duduk di hadapan pemuda itu.
“Kau ingin minum apa?”, tanya pemuda itu sambil tersenyum.
“Vanilla. Ice vanilla”, jawab wanita itu sambil tersenyum manis pada si pemuda. Tak lama kemudian, datanglah pelayan, dan pemuda itu pun memesan secangkir vanilla hangat dan segelas ice vanilla.
Pesanan pun datang, pemuda dan wanita itu nampak ceria,mereka bercengkrama dan tertawa bahagia sambilk ditemani vanilla di hadapan mereka. Keduanya nampak sangat menikmati minumannya.
“Lihatlah hei kopi, hingga hari ini sudah dapat dibuktikan bahwa akulah yang terbaik. 20 hari yang lalu kau membuat pasangan ini bertengkar, namun apa yang aku lakukan? Aku membuat mereka tertawa bersama. Betapa hebatnya aku, bukan?”, ucap vanilla menyombongkan dirinya di hadapan kopi. Kopi terdiam, ia sadar bahwa rasa manis vanilla memang lebih banyak dipilih manusia ketimbang rasa pahit yang dia miliki.
Melihat persaingan antara kopi dan vanilla yang semakin sengit, teman-teman minuman lain melakukan rapat untuk dapat menyatukan mereka kembali.
“Kopi dan vanilla adalah teman kita, kita tidak mungkin membiarkan salah satu dari mereka untuk pergi dari kedai ini. Kita semua adalah saudara”, ucap teh di depan teman-temannya.
“Teh benar! Kita harus melakukan sesuatu agar kopi dan vanilla tidak lagi berseteru”, ucap susu.
Mereka berdiskusi cukup lama, saling bertukar pikiran dan saran untuk dapat menyatukan kembali persaudaraan mereka. Mereka berharap kopi dan vanilla dapat tetap menjadi teman mereka dalam kedai zoete koffie. Hingga larut malam mereka melakukan rapat, hingga didapatkan keputusan berdasarkan kesepakatan bersama.
“Keputusan terakhir berdasarkan persetujuan bersama keluarga kedai zoete koffi, untuk menyelesaikan perseteruan antara kopi dan vanilla adalah mengurung kopi dan vanilla seharian di dalam ruangan  yang sama, agar mereka tidak dipesan oleh manusia dan dapat berbaikkan”, teh membacakan hasil keputusan rapat, dan mengetok palu, rapat keluarga besar kedai zoete koffie pun selesai.
Pagi-pagi sekali, kedai zoete koffie telah dibuka. Ternyata hari itu adalah hari ke 1000 kedai kopi ini buka, sehingga kedai buka lebih awal. Teh dan kawan-kawan masih terlelap karena mereka tidur terlalu larut semalam. Pengunjung pertama adalah sepasang kakek dan nenek. Mereka memesan secangkir kopi dan secangkir vanilla hangat. Dengan terampil barista menyiapkan pesanan mereka berdua. Secangkir kopi panas diletakkan diatas meja peramu, saatnya barista membuatkan pesanan vanilla hangat. Mendengar rebut-ribut, teh terbangun, ia kanget karena kedai sudah ramai. Teh melihat kesekelilingnya, ia terkejut, secangkir kopi telah dibuat, padahal rencana semalam belum dilaksanakan.
Dengan sekuat tenaga, teh mencoba membatalkan pesanan itu. Ia mengeluarkan aromanya sekuat tenaga hingga bau harumnya menusuk hidung sang barista. Sang barista menghirup bau harum itu dalam-dalam, ia menikmati harum aroma the sambil meracik vanilla hangat. Tanpa tersadar saat ia keasyikan dnegan roma teh, vanilla yang ia buat terjatuh dan masuk ke dalam cangkir kopi. Vanilla pun berteriak histeris begitu pula dengan kopi.
“Apa yang kau lakukan barista bodoh! Bagaimana bisa kau memasukkanku dalam makhluk pahit ini?!,” vanilla marah, tak sudi dirinya bercampur dengan kopi.
“Menjijikkan sekali, warnaku yang hitam ahrus bercampur dengan warna putihmu yang seperti makhluk kedinginan!”, kopi pun kesal karena ulang barista.
Sang barista kebingungan, ia merapihkan vanilla yang tumpah sambil meminta maaf pada kakek dan nenek yang memesan.
“Maafkan saya pak, akan saya buatkan pesanann yang baru”, ucap barista pada kakek dan nenek di hadapannya.
“Sebentar”, kakek itu membuat sang barista ketakutan. “Boleh aku lihat minumanku?”, pinta sang kakek pada barista.
“Tapi, minuman ini salah”, ucap barista seolah mengelak.
“Aku hanya ingin melihatnya dulu, kemarikan padaku”, kakek itu tetap meminta kopi yang bercampur dengan vanilla itu.
Barista mengambil pesanannya yang gagal dan memberikannya pada sang kakek. Di hadapannya, aroma kopi dan vanilla bercampur menjadi satu. Kakek itu menghirupnya dalam-dalam.
“Aroma yang sempurna”, ucap sang kakek sebelum kemudian menyeruput minuman yang ada dihadapannya.
Setelah meneguk minumannya, sang kakek terdiam, matanya terbelalak seolah berbinar menatap sang barista. Sang barista hanya terdiam ketakutan dan keheranan dengan si kakek.
“Ini adalah minuman yang sempurna, mengapa tidak kau tuliskan di daftar menumu?”, Tanya sang kakek pada sang barista sambil tersenyum.
Sang barista tersenyum senang, pesanan gagalnya ternyata menciptakan minuman baru yang enak dengan aroma yang sempurna. Teh dan kawan-kawan pun bersorak, mereka bahagia karena vanilla dan kopi pun akhirnya bersatu kembali.
Orang-orang pun berdatangan ke kedai, melihat sang kakek dengan kopi vanillanya, mereka tertarik dan  memesan minuman yang sama.
“Baiklah, ternyata begini akhir persaingan kita?”, ucap vanilla pada kopi.
“Ya, menjadi satu adalah akhir dari persaingan kita. Aku menerima ini semua. Aku senang”, ucap kopi sambil tersenyum gengsi pada vanilla. Mereka pun tertawa bersama, begitu pula dengan teman-teman minuman lainnya.
Orang-orang berdatangan, hari itu kopi vanilla adalah pesanan yang paling banyak dipesan. Hari ke 1000 kedai zoete koffie dibuka, dan lahirlah sebuah minuman baru yang sempurna. Kopi vanilla, aromanya menenangkan hati dan rasanya menyatukan cinta menjadi satu. (nine)


You Might Also Like

0 COMMENT