Barbie

August 28, 2013

Saat orang-orang ditanya tentang definisi wanita cantik, maka sebagaian besar akan menjawab : “seperti Barbie”. Sosok boneka plastic yang cantik dengan senyum yang manis, berbibir merah jambu, dengan tulang pipi yang indah, payudara yang besar, pinggang yang singset, pantat yang aduhai serta lengkap dengan kaki jangkungnya yang indah.

Jika kita lihat sekarang ini, bentuk tubuh wanita kebanyakan “mengejar target” untuk menjadi seperti Barbie. Barbie dijadikan sebagai “kiblat” bagi wanita dengan cara yang sangat persuasive untuk mengusahakan penampilannya semirip mungkin dengan boneka tersebut.

Sejak pertama kali diluncurkan oleh Mattel, Barbie tidak pernah surut dari permintaan pelanggan mulai dari anak-anak kecil, remaja, ibu-ibu dan bahkan bagi kaum pria. Barbie yang paling terkenal adalah Barbie dengan rambut blonde, walaupun saat ini sudah banyak sekali Barbie yang diproduksi dengan berbagai etnis seperti Barbie negro, Barbie oriental hingga Barbie yang berkerudung. Namun saya yakin, Barbie dengan rambut blonde dan berkulit putih pasti lebih banyak diminati.

Wanita saat ini menjadi objek,dimana hanya beberapa persen saja yang tetap pada pendiriannya dengan tidak begitu “peduli” dengan apa yang ada di sekelilingnya. Definisi cantik, saat ini ya harus seperti Barbie. Melalui Barbie tubuh wanita dieksploitasi, dimana payudara bagi “wanita cantik” haruslah besar dan sintal, pinggul yang menawan dan pinggang yang tanpa lemak sedikitpun. Kalau kata orang bilang, wanita cantik itu harus punya bdan seperti gitar Spanyol (walaupun saya juga tidak tahu, gitar Spanyol  apakah berbeda dengan gitar Indonesia?).

Wanita sejak dulu menjadi objek, ia diharuskan menjadi apa yang pihak lain inginkan. Kalu dulu sebelum jaman emansipasi ditegakkan (katanya), wanita dituntut oleh pihak keluarganya dan juga pihak laki-laki untuk menjadi sosok yang sempurna sebagai anak perempuan dan sebagai istri. Jika ia belum menikah, ia tidak diperbolehkan keluar malam, bahkan keluar rumah. Tidak diperbolehkan untuk sekolah karena ilmu hanya diperuntukkan bagi laki-laki, dan lain sebagainya. Beda konteks.

Namun kini, meski emansipasi sudah ditegakkan (katanya) wanita tetap hidup dalam tuntutan. Tuntutan yang sebenarnya bisa ia hiraukan, bisa juga tidak. Pada dasarnya wanita memiliki hati yang lembut, ia sangat perasa dan sangat sensitive dibandingkan laki-laki. Sehingga, saat dirinya telah sekali dikomentari atau bahkan dihina oleh seseorang ia akan menangis, kemudian ada yang berusaha lebih baik da nada yang tetap pasrah dengan kehidupannya tanpa adanya perubahan.

Wanita-wanita yang memilih untuk “melakukan” perubahan atas komentar dan cacian yang mereka terima, biasanya sangat tidak setuju dengan sistem patriarkal, yang disini konteksnya wanita selalu berada di bawah laki-laki. Secara tidak sadar, sebenarnya mereka tetap berada dalam system tersebut. Wanita menghabiskan banyak waktu, banyak tenaga, dan banyak biaya untuk “memperbaiki” tubuhnya daru ujung rambut hingga ujung kuku jempol kaki. Semuanya mereka perhatikan sedetail mungkin. Tak heran jika kaum-kaum kapitalis, menjadikan wanita sebagai objek utama dari setiap produk dagangan mereka.

Tujuan wanita untuk “memperbaiki” tubuhnya kebanyakan hanyalah untuk nampak menarik, sebagian bilang, untuk memuaskan diri sendiri, sebagaian besar sebenarnya tujuan mereka adalah untuk menarik perhatian laki-laki. Mereka terlalu “ta’lid” pada definisi wanita cantik jaman sekarang, sehingga agar laki-laki tergila-gila pada mereka, maka mereka harus tampil “se-Barbie” mungkin.  Ini tidak dapat dipungkiri!

Perkataan “Cantik itu bukan dilihat dari fisik, tapi dari hatinya” sudah terlalu mainstream. Dari sekian juta juta penduduk dunia yang berbicara demikian, hanya sekian persen saja yang mengamini lahir-batin. Orang-orang yang taat beribadah sekalipun, tidak dapat disangkal pasti juga terjebak dalam definisi cantik ala Barbie. Tidak jarang dari mereka yang meminta pasangannya untuk berambut panjang, berkulit putih, memakai gincu, memperbesar payudara dan lain sebagainya.

Saya wanita normal, dan saya tinggal di dunia kapitalis. Sebagai wanita normal, saya juga ingin menarik perhatian lawan jenis. Tak jarang, saya termakan dengan iklan di televisi yang menawarkan produk penghalus dan pemutuh kulit wajah, pelembab, deodorant, shampoo anti rontok, pelangsing tubuh,  dan lain sebagainya. Saya tidak mau dianggap alien karena hitam, kumal, gemuk, dan bau hanya karena alasan “cantik jaman sekarang itu media yang buat, harus percaya sama diri sendiri dong”, kemudian saya tidak melakukan perawatan tubuh sama sekali. Se idealis apapun manusia, tidak akan pernah mungkin lepas dari kehidupan “monster besar” ini. Di jaman sekarang ini, larangan dan penolakan tidak memadai lagi bagi manusia untuk bertahan hidup, ia harus memiliki kecerdikan. Yah, asal nggak demo menolak zionis dan kapitalis, tapi naiknya jeep harga mahal produksi mereka saja :p

Wanita tidak akan pernah bisa melebihi laki-laki. Teori-teori emansipasi dan penolakan terhadap patriarki itu menurut saya hanya angan-angan semata. Ada beberapa wanita yang pernah menyatakan tidak akan pernah mau menikah karena system yang belum sesuai dengan prinsipnya, dimana hak wanita harus sama dengan hak laki-laki. Hingga akhirnya, saat sang kekasih berlutut melamarnya, ia pun mengiyakan. Wanita memang berhati lemah kan? Ada juga wanita yang tetap kukuh tidak akan menikah dengan alasan yang sama hingga ia tua renta. Saat orang tuanya sudah tiada, ia tinggal hidup sebatangkara, tanpa adanya suami apalagi anak. Dan saat itulah, ia menyesali kehidupannya, yang berakhir dengan tangis sia-sia.

Wanita yang sudah suskses memiliki masalah lebih parah. Saat uang gajinya habis untuk perawatan badan dan bersenang-senang melepas penat selama bekerja, laki-laki yang dipacarinya mengajak menikah. Namun ia menolak atau meminta waktu pernikahan diundur karena ia masih menikmati pekerjaannya, dan biasanya laki-laki tidak akan sabaran menunggu. Hingga 75% wanita sukses ditinggal oleh pacarnya yang menikah dengan perempuan lain (survey yang sangat amat asal-asalan sekali. Hahaha).

Jadi wanita yang bagaimana yang baik itu? Setiap orang memiliki persepsi sendiri-sendiri. Saya sangat menghargai prinsip orang lain, menurut saya prinsip itu cara manusia bertahan hidup. Jika ia memilih hidup demikian, maka ia harus bertanggung jawab dengan hidupnya, tanpa mengeluh karena ia tidak akan pernah lagi berputar ke balakang. Jika saya boleh curhat, sebenarnya saya sendiri juga sedang dirundung kegalauan, maka dari itu saya menulis tulisan ini. Namun saya kira, laki-laki tak selamanya harus di atas, sesekali wanita yang berada di atas itu juga mengasyikkan. (nine)


You Might Also Like

0 COMMENT