Selamat hari Orangtua!

December 22, 2013

Seringkali saat aku bercerita, atau mengutarakan apa yang ada di kepalaku orang-orang menjadi tercengang, mereka hening kemudian menorehkan senyum asam di mukanya. Aku tahu itu ekspresi ketidakpuasan, atau keheranan, atau ketidaksetujuan. Atau apalah namanya, yang jelas mereka tidak suka.

Besok hari ibu, ya cuma bilang aja sih. Hehe

Setiap detiknya, selalu muncul pertanyaan-perntanyaan baru dalam otakku, bahkan pertanyaan-pertanyaan yang aku sudah tahu jawabannya hingga pertanyaan yang mungkin tidak ada seorangpun yang bisa menjawabnya. Tapi percayalah, semua pertanyaan itu pasti ada jawabnya. Entah kita mendapatkan jawabannya sendiri, atau alam yang memberi jawaban.

Aku sering tidak puas dengan apa yang terjadi, baik yang aku lakukan atau yang telah dilakukan orang lain untukku. Tapi aku menghargai semuanya, terimakasih. Aku hanya belum bisa mengenal betul siapa aku…

Hahaha, lucu memang. Tapi ya memang ini yang terjadi padaku. Manusia yang bingung sendiri dengan dunianya. Terlalu banyak memikirkan hal-hal yang tak mungkin ia lakukan sendirian, tapi tidak pernah berani untuk menceritakan tentang apa yang dia pikirkan.

Aku tidak tahu, apakah ada orang yang pernah punya pikiran sama denganku atau tidak. Mungkinkah Plato dan Socrates dulu juga memikirkan hal seperti ini, aku juga tidak pernah tahu.

Hanya saja, terlalu bodoh saat manusia sudah dapat pergi ke bulan, aku masih sibuk dengan pertanyaan “Siapa aku?”, “Untuk apa aku hidup?”, dan “apa yang aku inginkan dalam hidup ini?”. Pertanyaan itu sangat sederhana, dan pasti bisa dijawab dalam waktu kurang dari semenit, jika kalian tidak benar-benar memikirkannya.

Seperti misalnya, aku bisa saja menjawab “Aku Nindya, aku hidup untuk beribadah, dan aku ingin masuk surga.” Selesai. Sekarang kalau aku menambahkan lagi satu pertanyaan “Mengapa kamu menjawab seperti itu?”, pasti akan ada jawaban tambahan, berupa uraian-uraian. Kemudian aku akan menambahkan satu lagi pertanyaan, dan begitu seterusnya. Akan semakin banyak penjelasan, dan lama-kelamaan penjelasan itu sudah terlalu general dibandingkan jawaban yang pertama. Kemudian saat aku mengulang lagi pertanyaan awal “Siapa aku? Untuk apa aku hidup? Dan apa yang aku inginkan?”, uraian-uraian tadi akan secara tiba-tiba hilang dan tak pernah ada. Kemudian aku mengulang lagi pertanyaan yang sama…

Pernah nggak kalian mikir gitu?

Ada banyak sekali pertanyaan-pertanyaan ekstrim dalam otak ini, seperti tentang ayah, tentang ibu, tentang gunung, tentang sungai, hingga tentang Tuhan. Hingga lama-kelamaan aku makin tidak puas, dan aku semakin banyak meneguk kopi. Hingga aku tiba pada suatu titik saat kopi tidak lagi membuat nyaman. Menyebalkan sekali tubuh ini.kan?

Pertanyaan-pertanyaan tadi sebenarnya bisa juga dijawab dengan “Aku tidak pernah memilih untuk dilahirkan”. Maka… selama ini yang aku lakukan hanyalah sebuah paksaan, di bawah suatu perintah yang aku tak tahu darimana asalnya, mengapa harus aku patuhi, dan mengapa jika aku melanggar ada hukuman bagiku. Untuk hidup saja aku tidak pernah meminta kan?

Sial sekali, saat aku harus mematuhi aturan-aturan itu. Aku terlanjur menikmati hidup. Bertemu dengan makhluk-mahkluk lain, yang mungkin berjuta-juta tahun lalu mereka berada dalam suatu kantong arwah, tinggal bersamaku. Dan saat sebuah bayi terbentuk dalam rahim ibunya, teman-temanku ini “dikirim” ke bumi. Sekali lagi, padahal mereka tidak pernah meminta…
Dulu saat jaman SMA, dalam suatu Latihan Dasar Kepemimpinan, selalu diputar video Muhasabah tentang manusia. Berawal sejak ia masih di tempat yang antah berantah, hingga ia mati. Aku masih ingat ada beberapa dialog antara roh dengan Tuhan (Aku  juga nggak tahu, dulu mereka (kakak tingkat aku.red) dapat info ini darimana)
Roh : “ Wahai Tuhan, mengapa Engkau mengirimku ke dunia? Siapa yang akan menjagaku disana? Padahal aku disini lebih enak karena tinggal disisiMu?”
Tuhan : “Di dunia, aka nada malaikat yang menjagamu, menyayangimu dengan sepenuh hatinya sebagai penggantiku. Kamu akan baik-baik saja disana”
Roh: “Benarkah? Siapakah dia?”
Tuhan: “Dia adalah ibu…” (bla bla bla, kemudian yang aku ingat Cuma lagu nasyid ngga tau apa namanya)
Begini… Apakah benar Roh juga berdialog dengan Tuhan? Apa saat aku SMA, cerita yang bikin nangis teman-temanku satu aula hanya sebuah bohong belaka?? Tapi aku ngga pernah menangis karena cerita yang menurutku konyol ini. Karena tidak ada malaikat, at least… aku tidak kenal. Dan aku merasa berhasil saat kakak senior, GAGAL membuat aku menangis! Hahaha

Ibu itu apa?
Banyak yang mengartikan, Ibu adalah wanita, yang sudah pernah hamil, dan sudah pernah melahirkan, dan sudah pernah punya anak. Hmm… aku agak bingung mengomentari hal ini, terlalu banyak pertanyaan, aku  takut malah salah ngomong. Biar aku pendam sendiri saja.

Aku sering menonton segerombolan semut yang ramai, entah mereka melakukan apa. Aku bisa menonton mereka sampai berjam-jam. Mengamati gerak-gerik mereka, memfoto mereka. Dan kadang tertawa sendiri, atau bahkan kadang terharu sendiri. Apa kalian pernah seperti ini? Jangan anggap aku aneh ya!

Dulu… dulu sekali saat aku masih SD, aku sering keluar rumah setelah maghrib. Langit jaman dulu tidak seperti jaman sekarang. Dulu aku masih bisa melihat “sungai langit”. Ya! Pernah dengar sungai langit nggak?? Itu lhoo… dimana sekumpulan bintang-bintang nampak jelas sekali di malam hari sepanjang langit, sampai-sampai bentuknya mirik sungai. Cantik sekali. Aku sama mbahkung (kakek) sering sekali pergi keluar rumah selepas maghrib… Cuma buat lihat bintang. Aku masih ingat betul, aku sering tiduran di teras rumah melihat langit. Aku dan mahkung mencari-cari rasi bintang. Yang pertama kali mbahkung tunjukkan padku adalah bintang “Gubug penceng”. Kata mbahkung, orang jaman dulu selalu menggunakan bintang untuk menunjukkan arah mata angin. Aku benar-benar menikmati masa itu, dan Aku sangat merindukannya.

Setelah itu… aku sering pergi keluar rumah sendirian, saya duduk di samping kolam. Dan aku mulai berbicara dengan bintang… dengan langit, dengan bulan. Aku sampai-sampai pernah membuat teropong sendiri dari pipa PVC, dan menambahkan lensa kacamata entah punya siapa di ujungnya. Dan Bulan, terlihat lebih besar… aku sudah lama tidak bicara lagi dengan bintang… langit jaman sekarang sudah berbeda dengan lagit jaman dulu…

FYI aja, aku belum kenal Tuhan hingga aku kelas 5 SD. Hahaha. Tapi aku yakin, saat aku bertanya kepada Anda “Apa gambaran Tuhan saat Anda masih kecil?”, akan ada banyak jawaban. Tiap anak punya gambaran Tuhannya sendiri!. Dan saat aku mau tidur aku selalu mengajukan pertanyaan pada mbah uti. Banyak sekali pertanyaan. Hanya beberapa yang aku ingat. “Mbah, mama dimana?”, “Mama lagi ngapain?”. Dan saat mbah uti jawab “Mamamu lagi sama Gusti Allah”. Anda pasti sudah tahu aku bertanya apa kan?! “Gusti Allah itu siapa?” dan lagi, lagi, lagi, lagi… sampai mbah utiku tidur duluan, dan aku marah kalau mbah uti tidur duluan. Aku masih ingat “Tuhanku” saat aku masih kecil, dan akan selalu seperti itu…

Sampai sekarang pun, saat aku sudah tahu bahwa Tuhanku adalah Allah, aku beragama Islam. Dan aku telah belajar dan akhirnya mengetahui Mama masih di alam barzah. Aku masih menyimpan beberapa lagi pertanyaan yang tak terpecahkan. “Apa yang mama lakukan disana?”, “apakah mama baik-baik saja?”, “Apakah mama, melihat aku dari “sana”?”.

Mama meninggal 20 September 1991, itu artinya 2 hari setelah aku lahir. Dan sebelumnya mama dalam kondisi koma. Itu artinya aku tidak pernah lihat mama, tidak pernah disentuh mama, tidak pernah dan tidak pernah. Mama… hmm… tapi aku rasa, aku dekat dengan dia, meski sosok itu secara fisik tak pernah ada.
Dan saat besok adalah hari Ibu, maka buatku itu ya formalitas aja. Ibumu ada kok setiap hari, setiap hari adalah hari ibu. Dijaga baik-baik ya! J. Buat dia senyum setiap hari, telponin setiap hari, kasih peluk cium setiap mau pergi. Pokoknya “dieman-eman”. Karena sayangnya, yang hidup pasti mati.

Aku sedikit lega saat Soe Hok Gie yang mati muda itu pernah mengutip perkataan Silenius “Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda." Ibuku meninggal dalam usia 28 Tahun, semoga ia selalu beruntung, sampai kapanpun. Sampai saat aku kembali menjadi hanya sebuah roh, dan tak mengenal ia lagi karena aku sudah tidak punya hati untuk merasa, tidak punya otak untuk berpikir. Suatu saat… mungkin jika Sang pemilik roh mengizinkan kami untuk bertemu untuk yang pertama kalinya.

Mungkin sekian cerita ngalor-ngidulnya. Selamat hari orangtua semuanya J.
                                                                                                                                                           


You Might Also Like

0 COMMENT