Kiddos and Laughter

March 31, 2015


Kita hidup untuk belajar.

Betapa mengejutkannya ketika hidup mengajari kita banyak hal untuk dapat lebih hidup. Setiap detik dan bahkan setiap hembusan nafas memiliki arti yang dapat kita tafsirkan satu-persatu. 

Dari tangis, kita belajar bagaimana kekuatan harus diciptakan. Dari Janji kita belajar bagaimana lisan harus dijaga untuk sebuah tutur kata. Dari tawa, kita belajar bagaimana kebahagiaan dapat diraih dengan mudahnya.

Saat ini, saya sedang tinggal dikelilingi dua malaikat kecil. Keponakan. 
Setiap hari, kakak yang berusia hampir 4 tahun selalu aktif bertanya tak ada hentinya. Setiap ia melihat sesuatu atau mendengar sesuatu yang baru akan selalu muncul pertanyaan "Kenapa? Soalnya? Kok gitu?" berulang kali. Hingga kadang, pertanyaan kakak tidak ada habisnya sampai Ayah atau Ibunya mengucapkan "Ssst! Tanya melulu!". Saya tahu, ungkapan itu sebenarnya tidak tulus dari dalam hati mereka, mereka hanya terlalu lelah untuk mencajawab pertanyaan si putri kecil. hehe

Kakak yang mulai selalu ingin tahu, bertanya tentang hal-hal baru yang ia temui, dan sesekali ia bertingkah "sok dewasa" seolah-olah dia sudah bisa. Melihat kakak, yang dalam usia sekian sudah begitu aktif, saya jadi penasaran, apakah dulu saya juga seaktif itu? Kalau dulu saya seperti kakak, saya bisa bayangkan betapa capeknya orang tua saya dulu sewaktu saya masih kecil :)

Melihat kakak yang begitu bersemangat, saya belajar untuk tidak menyerah. Bagaimana tidak, kakak yang masih kecil, selalu berusaha ingin tahu, ingin menjadi dewasa, dan ingin melakukan segalanya sendiri karena menurutnya, dia sudah bisa. "Nggak ah, aku bisa sendiri! Aku kan udah besar!", itu ucapan kakak setiap kali saya mau bantu entah akan mandi, makan, atau membuka bungkus permen.

Adek, hampir 2 tahunan. Belum bisa bicara, badannya imut dan kecil. Adek mirip dengan kakak. Di usianya yang benar-benar masih muda, adek sudah bisa buang sampah sendiri, sudah ingin bisa makan sendiri. Adek selalu senyum dan dan tertawa manis. Raut mukanya yang polos tanpa dosa, membuat setiap orang yang melihatnya selalu menjadi tenang, kan?

Disamping itu.....
Memilih untuk menikah, berarti memilih untuk melanjutkan keturunan. Dengan demikian, mereka memilih pula untuk mengorbankan hal-hal yang dapat mereka lakukan dengan mudah saat mereka masih single, demi keluarga barunya. 
Wajar sih, saat kakak yang begitu aktif tak hentinya bertanya, saat adek yang mulai belajar selalu membuat rumah berantakan, kakak saya suka kurang kontrol emosi. Hehe. Tapi itu resiko, dan dari sudut pandang saya, meskipun kakak saya terlihat sesekali lelah dengan kehidupannya, namun ia bahagia. Kadang saya suka iseng, saat kakak sedang kesal dengan pekerjaannya dan juga kesal saat anak-anak sudah mulai hiperaktif, bertanya satu hal kecil, "Kamu bahagia apa nggak?", dia dengan nada kesal dan cemberut menjawab "Iya!". 

Kalian, bisa menarik kesimpulan sendiri kan, dari apa yang bisa dipelajari dari kondisi seperti ini? hehe

You Might Also Like

2 COMMENT