#Iklan Sabun antiseptik dan Sabun pencuci piring

May 20, 2015


Witing tresno jalaran saka kulina
Adalah pepatah Jawa yang sebenarnya memiliki arti yang mendalam. Kata tresno  atau berarti cinta atau kecintaan sering kali diartikan sebagai hubungan emosional antara manusia, laki-laki dan perempuan. Padahal, pada dasarnya, pemilihan kata tresno, tak hanya sebatas itu saja. Witing tresno, atau asal mula sebuah kecintaan, jalaran saka kulina, dimulai dari sebuah kebiasaan. Rasa cinta hadir karena kebiasaan, bisa diartikan dengan sering bertemu atau sering menjalani (dalam konteks kegiatan). Orang yang sedang jatuh cinta akan melakukan segala-galanya untuk hal yang ia cintai. Sehingga pepatah Jawa ini, memberikan wejangan bahwa orang yang sudah terbiasa melakukan kegiatan, akan punya rasa memiliki atas sebuah pekerjaan tersebut, sehingga timbul rasa cinta dalam dirinya. Dan saat cinta telah merasuk ke dalam jiwanya, maka ia akan selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk mempertahakan rasa cintanya terhadap kegiatan tersebut. Jika kita akan membicarakan pepatah ini dalam konteks hubungan asmara, beda lagi ceritanya. Hehe

Jadi sebenarnya, saya mulai mengingat pepatah itu karena saya merasa saya sudah “sedikit’ meninggalkan dunia saya yang sebenarnya. Weits, tunggu dulu. Begini maksudnya. Kemarin, saya berdiskusi ringan dengan Ibunda Ratu (kakak saya) dan Patih Kerajaan (Kakak Ipar saya). Seperti biasa, perdebatan selalu terjadi. Hingga akhirnya sang Ibunda Ratu yang baik hati nyeletuk begini:
Hei Putri Mahkota (walah apaan), daripada kamu debat sama kita-kita doang, punya blog mbok ya diurusin. Nulis kek disitu. Walopun bukan tulisan ilmiah ngga papa. Namanya juga blog pribadi.
Mendengar sabda pandita ratu tersebut, saya memikirkannya sepanjang malam di dalam gua. Hingga akhirnya mendapatkan wangsit terkait dengan pepatah jawa tersebut.

Saya sudah lama sekali tidak “sekolah”, hingga jujur saja , saya merasa kehilangan apa yang pernah amat sangat saya cintai. Meskipun saat ini saya sudah bekerja tidak tetap, tetapi ternyata saya tidak mudah jatuh cinta dengan pekerjaan saya. Kemudian saya tersadar, bahwa memang harus selalu ada bagian-bagian yang dihidupkan dari cinta saya sebelumnya.

Kemudian hening



Jadi sebenarnya begini. Obrolan kemarin berawal dari iklan di TV. Tentang sabun antiseptik  dan sabun pencuci piring.

Kami menyoroti tentang tagline dari kedua produk tersebut. Begini kira-kira.

Kasus 1, Sabun antiseptik, Tagline:
Kuman telah berevolusi dari masa ke masa, oleh karena itu, biasakan untuk mencuci tangan sampai bersih menggunakan sabun antiseptic untuk mencegah penyakit.
Kasus 2, Sabun Pencuci Piring, Tagline:
Sabun pencuci piring anti lemak, dengan ekstrak jeruk nipis dapat juga digunakan untuk mencuci buah dan sayur sebagai peluruh pestisida.
Sekilas, apakah ada yang aneh dari kedua tagline di atas? Jika jawaban kalian adalah iya, mungkin ada sepaham dengan saya.

Iklan memang dibuat sedemikian rupa, sangat persuasive dan bahkan tak jarang berubah menjadi terlalu provokatif. Sasaran iklan juga sudah terpetakan, mulai dari usia, status sosial, waktu luang, dan lain-lain. Dalam hal ini, iklan sabun antiseptik dan sabun pencuci piring tergolong iklan yang tayang sepanjang waktu, baik pagi, siang, sore, malam, tengah malam maupun dini hari (lengkap banget :p). Karena sasaran mereka adalah Ibu rumah tangga, atau bisa jadi anak-anak, atau bahkan asisten rumah tangga yang bisa jadi selalu ada di rumah dan menonton televisi khususnya.

Karena sabun antiseptik dan sabun pencuci piring pada kenyataannya berada di ranah belakang, atau disebut juga ranah Ibu rumah tangga atau ranah asisten rumah tangga.

Baik, kalo dari sudut pandang saya, akan saya kaitkan sedikit dengan apa yang pernah saya pelajari ya.

Kasus 1, Sabun antiseptik

Apa itu kuman?
Kuman (germs) pada dasarnya adalah mikroorganisme tak tampak mata, seperti bakteri, virus, jamur, dan sebagainya. Benarkah mereka berevolusi? Jawabannya adalah iya. Seperti layaknya makhluk hidup lainnya, mikroorganisme ini melakukan adaptasi untuk tetap bertahan hidup dan lolos dari seleksi alam. Perubahan zaman, suhu, dan udara mengharuskan mikroorganisme melakukan evolusi untuk bertahan hidup.
Selain itu, virus, bakteri dan jamur merupakan mikroorganisme yang memiliki asam nukleat, berarti memiliki kromosom dan gen. Akibat perkembangan zaman, besar kemungkinan terjadinya mutasi gen dalam tubuh mikroorganisme.
Mutasi terjadi pada frekuensi rendah di alam, biasanya lebih rendah daripada 1:10.000 individu. Mutasi di alam dapat terjadi akibat zat pembangkit mutasi (mutagen, termasuk karsinogen), radiasi surya, radioaktif, sinar ultraviolet, sinar X, serta loncatan energi listrik seperti petir.

Lalu apa perbedaan antara Mutasi dan Evolusi ?
Evolusi terjadi karena adanya seleksi alam dan kompetisi yang terus - menerus, sehingga memaksa makhluk hidup - makhluk hidup untuk beradaptasi agar dapat mempertahankan spesiesnya. Dengan kata lain, evolusi pada makhluk hidup disebabkan oleh tekanan faktor lingkungan.
Sedangkan mutasi, berasal dari perubahan DNA dan RNA yang memaksa pada sebuah indvidu. Perubahan ini terjadi dengan waktu yang relatif singkat. sehingga menyebabkan individu - individu itu mengalami cacat. biasanya mutasi terjadi bukan karena alam, namun karena radiasi atau reaksi - reaksi kimia. Mutasi bisa dikatakan efek samping dari suatu proses kimiawi yang merubah susunan DNA dan RNA.

Lalu apakah kuman akan dapat dicegah hanya dengan rajin mencuci tangan menggunakan sabun antiseptic?
Tidak. Karena ukuran tubuh mereka yang kecil, mereka sebenarnya tersebar secara bebas di udara. Mungkin saat inipun mereka sedang menempel di sekujur permukaan tubuh anda. Lantas, apakah keberadaannya dapat dicegah hanya dengan mencuci tangan? Tentu saja tidak. Mencuci tangan memang baik, dan memang dapat membunuh kuman. Sebagian besar mikroorganisme khususnya jamur dan bakteri tidak dapat bertahan hidup dilingkungan yang basa (pH>7). Sabun memiliki sifat yang basa.

Jadi, sebaiknya jangan telalu merasa aman hanya karena telah mencuci tangan dengan sabun merk terntentu. Pada umunya, semua sabun bersifat basa, jadi kemungkinan bahan aktif dan cara kejanya sama. Untuk mencegah penyakit, sebaiknya kita lebih harus menjaga kesehatan, tidur yang cukup, makan teratur dan selalu membudidayakan pola hidup sehat dan bersih. Ingat, nggak cukup hanya dengan mencuci tangan ya! Hehe

Kasus 2, Sabun Pencuci Piring

Dalam hal sabun pencuci piring ini, saya akan lebih menggaris bawahi tentang pernyataan bahwa sang sabun pencuci piring dapat digunakan untuk mencuci buah dan sayur sebagai peluruh pestisida.
Benarkah?

Well, pertama-tama saya kan membahas terlebih dahulu kandungan bahan kimia pada sabun pencuci piring pada umumnya.
Texapon, Sodium sulfat, Camperlan, Foam Booster, EDTA 1,1 % ( Pengawet, bisa tahan sampai 8 th ), Parfum, Fisatif, Pewarna, dan Air
Atau beberapa bahan kimia yang lain. See? Berarti komposisi pembuat sabun pencuci piring adalah sepenuhnya merupakan bahan kimia sintetis.

Lalu, apakah pestisida sebenarnya?
Pestisida adalah substansi kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang digunakan untuk mengendalikan berbagai hama. Yang dimaksud hama di sini adalah sangat luas, yaitu serangga, tungau, tumbuhan pengganggu, penyakit tanaman yang disebabkan oleh fungi (jamur), bakteria dan virus, kemudian nematoda (bentuknya seperti cacing dengan ukuran mikroskopis), siput, tikus, burung dan hewan lain yang dianggap merugikan.

Sesuai konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT), penggunaan pestisida ditujukan bukan untuk memberantas atau membunuh hama, namun lebih dititiberatkan untuk mengendalikan hama sedemikian rupa hingga berada dibawah batas ambang ekonomi atau ambang kendali.  

Di Indonesia untuk keperluan perlindungan tanaman, khususnya untuk pertanian dan kehutanan pada tahun 2008 hingga kwartal I tercatat 1702 formulasi yang telah terdaftar dan diizinkan penggunaannya. Sedangkan bahan aktif yang terdaftar telah mencapai 353 jenis.

Pestisida tersusun dan unsur kimia yang jumlahnya tidak kurang dari 105 unsur. Namun yang sering digunakan sebagai unsur pestisida adalah 21 unsur. Unsur atau atom yang lebih sering dipakai adalah carbon, hydrogen, oxigen, nitrogen, phosphor, chlorine dan sulfur. Sedangkan yang berasal dari logam atau semi logam adalah ferum, cuprum, mercury, zinc dan arsenic.

  Sifat pestisida
Setiap pestisida mempunyai sifat yang berbeda. Sifat pestisida yang sering ditemukan adalah daya, toksisitas, rumus empiris, rumus bangun, formulasi, berat molekul dan titik didih.
Cara Kerja Pestisida
*Pestisida kontak, berarti mempunyai daya bunuh setelah tubuh jasad terkena sasaran.
*Pestisida fumigan, berarti mempunyai daya bunuh setelah jasad sasaran terkena uap atau gas
*Pestisida sistemik, berarti dapat ditranslokasikan ke berbagai bagian tanaman melalui jaringan tanaman. Hama akan mati kalau mengisap cairan tanaman.
*Pestisida lambung, berarti mempunyai daya bunuh setelah jasad sasaran memakan pestisida.

Kalau kita kembali ke Cara kerja pestisida, kira-kira mana yang paling berbahaya bagi manusia/konsumen?

Pestisida sistemik, berarti dapat ditranslokasikan ke berbagai bagian tanaman melalui jaringan. Hama akan mati kalau mengisap cairan tanaman.
Nah, disini dijelaskan bahwa cara kerja pestisida ini adalah dengan mentranslokasikan pestisida melalui jaringan pembuluh tanaman, which means bahwa pestisida ada dan mengalir di seluruh tubuh tanaman. Dan kecil kemungkinan bagi pestisida ini untuk hilang dari tanaman tersebut. Biasanya pestisida ini digunakan pada tanaman family Brassicae atau kubis-kubisan.

Sedangkan pestisida lainnya, sama saja bahayanya apabila penggunaannya tidak sesuai dengan dosis yang dianjurkan.

Nah sebenarnya, untuk pestisida sendiri tidak semuanya merupakan produk pabrikan lho. Kita bisa membuat pestisida sendiri dari ektrak daun, buah dan batang tanaman. Untuk lebih jelasnya, berikut bagan jenis pestisida yang saya ingat. Hehe



Pernah dengar apa itu biomagnifikasi?
biomagnifikasi adalah urutan proses dalam suatu ekosistem dimana konsentrasi yang lebih tinggi dari suatu bahan kimia terdapat pada organisme yang lebih besar.

Jadi biomagnifikasi menggambarkan adanya suatu organisme yang bertindak sebagai produsen yang sebelumnya telah menyerap suatu senyawa xenobiotik, kemudian akan dimangsa oleh organisme lain sehingga senyawa tersebut akan berpindah padanya sedangkan organisme itu juga tanpa sengaja menyerap senyawa xenobiotik yang masih dilingkungan yang sama, dan akan berlanjut seperti itu. Dengan begitu senyawa xenobiotik tersebut akan semakin terakumulasi hingga pada konsumen tertinggi.
Contoh : Senyawa DDT yang mengalir pada rantai makanan.

Ilustrasinya seperti ini.


Bisa dibayangkan kan berapa banyak zat-zat kimia yang sebenarnya telah kita timbun dalam tubuh kita?

Baik, kembali ke kasus 2 yah.

Lalu, apakah sebenarnya sabun pencuci piring dapat membantu meluruhkan pestisida?

Tidak. Justru perendaman menggunakan sabun pencuci piring semakin menambah zat-zat kimia yang meresap dalam jaringan pengangkut pada buah dan sayur.

Nah, jadi bagaimana dong? Saran saya, untuk buah dan sayur cukup dicuci dengan air mengalir dan sedikit digosok-gosok pada permukaannya, kemudian apabila memakan buah (apel, pir, dll) jangan dimakan bersama kulitnya, kupas kulitanya yah. Karena selain terdapat sisa-sisa pestisida, di lapisan kulit buah-buahan tersebut biasanya juga terdapat zat lilin yang berfungsi sebagai pengawet.

Well, selanjutnya semoga kita bisa jadi konsumen yang ngga langsung percaya begitu saja dengan iklan di media. 

Untuk mencegah penyakit cara yang paling jelas adalah dengan m,embudayakan hidup sehat, istirahat teratur dan jangan lupa berdoa kepada Allah.

Mungkin segini dulu ya review dari saya. Apabila ada salah persepsi dan sudut pandang bisa didiskusikan melalui komentar di posting ini. Terimakasih.

You Might Also Like

0 COMMENT