Menanti Hujan

May 20, 2015


Setelah lama tidak memberi kabar, hari ini dia mengirimkan pesan singkat padaku. Seperti angin yang selalu ada tapi tak pernah singgah, begitulah hadirnya dalam hidupku. Seperti biasa, ia memintaku datang tepat waktu, tidak lebih semenit, atau bahkan sedetikpun.

Di cafe dengan interior khas eropa di ujung jalan kami berjanji untuk bertemu. Aku mempercepat langkahku, bahkan hampir berlari untuk mengejar waktu. Saat itu hari panas dan terik, aku terus berjalan tanpa menghiraukan sekelilingku. Meski sesekali mataku menangkap beberapa hal yang menggodaku untuk melihat walau sebentar. Di perjalanan, aku melihat seorang wanita yang berdiri di pagar jembatan memandang jauh tiada berujung. Mungkin ia baru saja kehilangan seseorang atau hal yang sangat berarti dalam hidupnya.

Sepanjang jalan aku teringat padanya. Sosok yang selalu dikejar oleh entah aku tak tahu siapa. Ritmenya sungguh tak dapat kukejar, pola pikirnya yang mungkin 4-5 tahun lebih cepat dariku meskipun kami seumuran. Selama mengenalnya, yang aku tahu, tak sekalipun aku melihat dia duduk santai menikmati kopi panasnya sambil membaca buku.

Ia duduk di depan meja bundar, menatap layar komputernya penuh gairah, seolah hanya benda itulah yang satu-satunya akan menemaninya hingga akhir hayat. Dua cangkir apple tea  cukup menemani pertemuan kami yang singkat tapi kurasa begitu panjang. Ia menemuiku untuk menanyakan satu hal. Bukan tentang kita, atau bahkan tentang perasaan-perasaan indah. Ia menanyakan tentang hidupnya sendiri. Namun aku tetap tertegun, dengan caranya berdiplomasi dihadapanku. Dengan gaya percaya dirinya yang ramah dan penuh semangat. Aku yakin, bahasa tubuhnya pun cukup membuat orang paham dan menerimanya dengan senang hati untuk bekerja sama dengan mereka atau lebih dari itu. Hingga aku sadar, untuk apa ia menemuiku hanya untuk membicarakan hidupnya?

Pertemuan singkat seperti biasanya. Ia beranjak dari kursi dan mengarahkan tangan lemahnya kehadapanku dengan untaian kata terimakasih. Kemudian kembali duduk menghadap layar itu selagi aku pergi.

Mungkin hanya aku yang tahu, mengapa ia tidak pernah menikmati sisa hidupnya. Karena ia ingin dikenang sebagai sejarah, bukan hanya sebagai nama. Ia benar-benar ingin menikmati hidupnya dengan caranya sendiri, hingga aku sadar bahwa tidak akan ada waktu untuk memikirkanku bagi dirinya. Ia begitu bersemangat mengejar apa yang belum sempat ia raih seolah esok sudah tidak ada lagi. 

Dia telah mengajarkan banyak hal padaku, tentang betapa berharganya setiap detik dalam kehidupan, dan bagaimana meghabiskannya dengan penuh arti. Namun, karena ia juga, aku menginginkan hal yang sangat sederhana, sesederhana menanti hujan sekali saja, bersama dirinya,

You Might Also Like

0 COMMENT