#Cerpen - Pertemuan Pertama

May 22, 2015


Setiap pagi aku mengayuh sepedaku menuju kebun milik orang tuaku. Sejak lulus sekolah menengah, Ayah telah menyerahkan urusan kebun padaku. Kami memiliki beberapa kebun di kampung ini, Ayah memberikan tanggung jawab salah satu lahan sayur-sayuran kepadaku. Meskipun aku tidak mengolah lahan sendirian, berkunjung dan mengontrol kondisi lahan harus aku lakukan setiap hari. Namaku Ranti, anak perempuan satu-satunya di keluarga kami. Kedua abangku sudah menikah, dan keduanya telah merantau ke kota untuk bekerja di pabrik. Adikku, seorang anak laki-laki tangguh yang memiliki keterbatasan tuna wicara, lebih memilih membantuku di kebun daripada sekolah. Meskipun aku adalah anak perempuan, ayah dan ibu mengajarkanku untuk menjadi perempuan yang kuat dan tak mudah menyerah, seperti namaku yang diambil dari sebuah nama kayu meranti yang kuat dan kokoh.

Setiap hari aku pergi ke kebun seluas 800 meter persegi. Kami menerapkan sistem tanam tumpang sari di lahan kami. Menggunakan sistem tanam ini, selain mengurangi biaya produksi untuk membeli pestisida juga dapat meningkatkan keuntungan kami, meskipun tak selamanya selalu menguntungkan, semua bergantung pada kondisi pasar pada saat panen telah tiba. Saat ini musim kemarau, kami memilih menanam cabai dan berharap akan panen sebelum lebaran tiba. Harapan kami, pada bulan itu, harga cabai cukup tinggi sehingga dapat menutup biaya produksi yang kami keluarkan. Setiap pagi dan sore, aku berkeliling lahan, mengontrol kondisi tanaman secara acak. Apabila terjadi masalah hama atau penyakit, biasanya kami mendiskusikannya bersama di pos kelompok tani di desa kami yang dilaksanakan seminggu sekali. Selain cabai, pada musim ini kami menanam wortel. Berdasarkan sekolah lapang yang dilaksanakan oleh penyuluh lapang di kelompok tani, penanaman dengan cara demikian cukup dapat meningkatkan keuntungan kami.

Aku beruntung, karena di desa kami hampir 70% masyarakat bekerja sebagai petani, sehingga kami dapat dengan mudah bertukar pengalaman tentang sistem tanam dan cara tanam yang benar. Selain itu, pemerintah cukup peduli pada sektor pertanian dengan secara rajin memberikan penyuluhan kepada kami setiap bulannya. Berkat sektor pertanian inilah kampung kami tetap bisa hidup. Hampir seluruh masyarakat disini sudah hidup berkecukupan. Semua masyarakat memiliki rumah yang layak, beberapa sudah memiliki kendaran seperti motor dan mobil pribadi bahkan traktor, truck dan pickup. Pangsa pasar kami adalah supermarket dan hotel atau restoran. Kampung kami sudah dipercaya untuk selalu menyuplai sayur-mayur dan buah-buahan ketiga tempat tersebut.

***

Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku pergi ke kebun bersama adikku. Namun hari ini sedikit berbeda. Di jalan setapak di dekat kebun kami, nampak beberapa orang yang nampaknya dari kota, sedang mengobrol dengan kepala desa. Tampak beberapa kawan petani yang lain melihat ke arah mereka saat berangkat ke kebun. Beberapa melihat dengan tatapan kagum dan beberapa melihat dengan tatapan kesal. Karena penasaran, aku mencoba bertanya kepada Pak Suwito, tetangga kebunku. Beliau sudah 40 tahun lebih bekerja sebagai petani disini, dan saat ini beliau sudah memiliki 3 kebun dan sebuah peternakan ayam yang kotorannya dimanfaatkan sebagai pupuk bagi tanaman di kebunnya.
“Siapa itu pak?”, tanyaku kepada beliau.
“Palingan orang kota, mau nego ngebeli lahan. Mau bikin resort sama hotel di kampung kita. Padahal sudah berkali-kali ditolak masyarakat masih ngeyel aja. Nggak tahu malu!”, ucap Pak Suwito kesal.
Aku memang pernah dengar cerita dari ayah. Beberapa tahun yang lalu, para petani sempat melakukan protes kepada kepala desa karena salah satu lahan petani disini akan dijual kepada pengusaha dari kota untuk dijadikan resort dan hotel. Namun rencana tersebut batal karena petani dikampung kami, termasuk ayah, mengancam akan mencelakai orang-orang kota tersebut apabila tetap melakukan pembangunan. Para petani juga melakukan protes ke kantor Bupati mengancam tidak akan tanam selama satu tahun penuh apabila proyek resort tetap dijalankan. Tentu saja Bupati lebih memilih kami, karena pada masa itu bisa dikatakan kampung kami menjadi daya tarik utama wisatawan dari luar dan menjadi ikon di kabupaten kami karena produksi pertaniannya yang melimpah. Namun untuk yang saat ini, aku tidak tahu mengapa para orang kota itu berani datang lagi ke kampung kami.

***

Sebulan kemudian, hari ke20 puasa ramadhan. Kebun kami panen, hasil panen cabai mencapai 15 ton, sedangkan wortel mencapai 11 ton. Harga pasar saat ini cukup menjanjikan, sehingga untuk musim tanam kali ini, kebun kami tidak mengalami kerugian.

Idul Fithri telah berlalu. Lahan dibiarkan bera (istirahat) terlebih dahulu. Dan saat ini kami harus menyiapkan untuk musim tanam selanjutnya. Minggu pertama, waktunya seluruh pertain melakukan pertemuan untuk membahas musim tanam selanjutnya. Namun kali ini, pertemuan berbeda dari bulan-bulan sebelumnya. Ketua kelompok tani nampak gusar, ia nampak takut untuk menyampaikan sesuatu.
“Mulai minggu depan, kebun apel di atas, milik Pak Karso, akan dimulai pembangunan resort dan hotel. Proyek ini sudah disetujui oleh Bupati dan kepala desa. Mengingat lahan apel miliki pak Karso sudah tidak produktif lagi.”, ucap Ketua kelompok tani.
Susana rapat menjadi ricuh. Banyak petani yang tidak setuju dan menyayangkan tindakan kepala desa kali ini yang tidak mengajak petani berdiskusi terlebih dahulu. Kami mengkhawatirkan kondisi kebun kami di masa yang akan datang. Kebun apel pak karso terletak di atas, hampir di puncak bukit. Apabila di lahan tersebut akan dibangun resort dan hotel bukan tidak mungkin dalam jangka waktu dekat akan ada pelebaran jalan, alat berat masuk ke areal pertanian, dan keramaian sepanjang jalan. Untuk menuju kebun pak Karso, semua kendaraan harus melewati jalan setapak bebatuan di sekitar lahan mayoritas petani disini. Kami juga mengkhawatirkan akan adanya polusi air bagi lahan pertanian kami.

Tidak biasanya pemerintah mengesampingkan persetujuan kami disini. Setiap akan ada perubahan sistem atau pembangunan di kampung, pemerintah selalu mengajak petani untuk melakukan jajak pendapat terlebih dahulu. Namun tidak untuk kali ini. Kami dengar, Kebun pak Karso dibeli dengan harga 3kali lipat dari harga normalnya. Pak Karso adalah petani apel yang dulu pernah sekali berjaya. Beliau bisa mengimpor beratus ton apel ke luar negeri dari hasil panen kebun apelnya. Namun sekarang pak Karso sudah tua sehingga kurang bisa intensif mengontrol kebunnya di puncak bukit. Selain itu, produktifitas lahannya sudah menurun hampir 70% dari masa kejayaannya. Sehingga wajar pak Karso melepas begitu saja kebun itu dengan iming-iming uang yang sangat banyak itu.

Hari berganti hari, semakin banyak kendaraan berlalu lalang di areal perkebunan kami. Alat berat sudah mulai naik ke atas. Kami hanya bisa pasrah dan tetap berdoa dan berusaha agar pembangunan tersebut tidak terlalu berdampak besar terhadap keberlangsungan produksi kebun kami.

***

Suatu pagi, saat aku akan bersiap-siap ke kebun Ayah kedatangan tamu. Ibu bilang mereka dari kota, orang-orang proyek resort dan hotel di puncak bukit.
“Bagaimana jika Bapak bekerja sama dengan kami? Kami berencana akan membuka perusahaan yang berbasis agrowisata.”, ucap tamu tersebut.
Aku menguping sayup-sayup pembicaraan tamu tersebut dengan Ayah. Pembicaraan menghasut, yang meminta kami ikut serta dalam bisnis mereka. Kami tahu, dengan bergabung dengan bisnis tersebut berarti kami masuk ke dalam lingkaran setan. Dengan iming-iming keuntungan besar, mereka mencoba mencari keuntungan yang lebih besar dari apa yang telah kami kerjakan. Ujung-ujungnya pasti kami juga yang akan dirugikan.

Ibu memintaku mengantar minuman sebelum aku berangkat. Aku membawa nampan berisi dua buah gelas teh hangat ke ruang tamu. Ku letakkan kedua gelas tersebut di meja, berharap untuk segera bergegas pergi. Namun aku tertahan karena tamu ini harum sekali, kuperhatikan penampilannya dari sepatu yang hitam mengkilat, setelan orang kantoran yang rapih, dan rambut yang disisir kebelakang seolah ingin menunjukkan status sosialnya.
“Perkenalkan, ini anak saya, Ranti. Dia adalah salah satu pemilik kebun disini”, Ayah memperkenalkanku tiba-tiba kepada pemuda itu.
“Adi Pratama”, pemuda itu menyodorkan tangannya berharap tangannya kusambut untuk memperkenalkan diri.
“Ra… Ranti. Miranti Pratiwi”, Aku terbata memperkenalkan diri. Jantungku berdegup kencang, dan tiba-tiba badanku panas dan keringat dingin.

Pemuda itu tersenyum, dan kubalas dengan senyuman pula.

You Might Also Like

0 COMMENT