Untuk Misbah dan Elis

May 25, 2015



2012.

Aku terpaku melihat foto-foto lama kita.
Saat jiwa kita masih muda, penuh dengan semangat juang katamu. Aku rindu memasuki ruang gelap itu. Ruang yang penuh dengan buku-buku tua, komputer yang usang, dan coretan-coretan di dinding. Namun, hingga hari ini, setengah dari buku-buku itu belum juga tersentuh oleh jemariku. Kala itu, kau dan aku, menjadikan ruang gelap itu sebagai rumah, bukan hanya tempat singgah. Saat itu, kau dan aku, menghabiskan waktu hingga kita lupa kemana arah jarum jam berlari.

Misbah dan Elis.
Aku rindu hiruk pikuk perdebatan kalian tentang ideologi katamu. Agama, Tuhan, prinsip, ideologi, pergerakan, atau hanya sebatas pemilihan kata untuk berita-berita barumu. Aku rindu kala kita duduk termenung, membaca buku atau sebuah berita, kemudian setiap satu kata yang terucap menjadi perbincangan sepanjang malam.

Kau dan aku menghabiskan malam bersama. Berjalan ke seberang jembatan, meneguk kopi-kopi kita hingga larut malam. Ah... tidak! sampai pagi!. Demi diskusi, demi sebuah semangat yang saat itu tertanam pada jiwa-jiwa muda kita yang berapi-api. Aku rindu kala kita bertukar wacana mulai dari soekarno hingga pramoedya.

Misbah dan Elis.
Aku bukan siapa-siapa tanpa kalian. Aku rindu kala kalian mengajariku. Bercerita tentang apa yang pernah engkau kerjakan. Elis dengan semangatnya yang tak terpatahkan, tak berhenti bercerita tentang perjuangannya. Misbah yang selalu diam, menghisap rokok, dan meneguk kopi, namun kutahu dalam kepalanya sedang meletup-letup pikiran-pikiran yang luar biasa.

Ruangan gelap di ujung bangunan, atapnya sudah hampir roboh karena tua, langit-langitnya menjadi tempat tidur penghuninya, disitulah saksi bisu kita. Dimana aku dan kau belajar, menyatukan ideologi kita demi sebuah semangat juang kala itu. Ruangan itu mungkin telah penuh dengan pikiran-pikiran kita yang tak terkira namun tak tersampaikan dengan sempurna, dengan canda tawa kita, dan dengan amarah kita.

Misbah dan Elis.
Aku memang tak pandai berkata-kata. Merangkai kata layaknya pujangga. Namun demi setiap teguk kopi kita hingga pagi buta. Demi setiap rokok yang kau hisap, dan asap yang kita telan bersama. Aku ingin bertemu kembali seperti aku dan engkau yang dulu. Bercerita lagi, tentang hidup yang pernah kita jalani bersama. Tentang rasa yang terikat antara kita semua. Aku rindu, pada kau dan aku di ruang gelap itu.

You Might Also Like

0 COMMENT