#Random Review - 500 Days of Summer

June 16, 2015


Sebenernya saya udah lama pengen nulis review tentang film ini. Karena honesty, film ini adalah film yang saya tonton sudah lebih dari 10 kali. Film ini adalah film kedua yang saya tonton berkali-kali setelah Twilight haha (Twilight saya tonton lebih dari 17 kali mungkin *lol).

Mungkin sudah banyak yang menonton film 500 days with Summer ini yah? Gimana komentarnya? Hihi

Kalo berdasarkan beberapa temen SMA sampe temen kuliah saya dulu, setiap kali saya ajakin nonton film ini selalu ada dua atau tiga orang yang memberikan komentar “Summer is a bit**!”. Pokoknya judgement negative selalu dijatuhkan pada tokoh Summer. Atau ada juga yang komen “Kasihan Tom nya, padahal sudah cinta banget sama Summer, padahal bla...bla…bla...”. Kebanyakan yang komen seperti ini adalah temen laki-laki atau temen yang suka baper, atau temen-temen yang udah pacaran lama banget. Menurut mereka apa yang dilakuin Summer cenderung semena-mena. Pokoknya komennya selalu sebagian besar merujuk bahwa Summer adalah tokoh antagonis di film ini.

Tapi, sejak pertama kali saya nonton film ini, SMA kelas 3, sekitar awal tahun 2010an, menurut saya Summer ain’t a type of that girl, justru menurut saya Summer ini tergolong dalam kelompok woman who leads. Karena dia tegas menentukan pilihannya dan berani mengambil keputusan untuk hidupnya sendiri. That’s a woman should be, though. Film ini menurut saya lebih menggambarkan realitas tentang perempuan yang awalnya hidup bebas dan mandiri, pada akhirnya tetap memilih untuk menetapkan hatinya pada satu laki-laki dan mengambil keputusan untuk menikah. Film ini logis dan realistis sekali menurut saya. Seolah-olah ingin menyampaikan dari suara hati perempuan yang paling dalam “Wajar kan kalau kita mendapatkan yang kita butuhkan bukan (hanya) yang kita mau?!”.

Sejak awal saya justru ngga suka sama tokoh Tom, karena beberapa alasan.

Pertama, dari segi fisik. Summer yang nyaris perfect dan cute abis dan juga rapi disandingkan sama Tom yang cenderung berantakan dan klemar-klemer, ngga banget buat saya. Summer deserved better.

Kedua, dari segi semangat. Tom cenderung ngga mau ambil resiko, dia selalu berada di zona aman dan punya prinsip “yaudahlah gini aja daripada nggak”. Sedangkan Summer adalah tokoh yang berani ambil resiko atau “That should be fun, let’s do it! If we failed, at least we’ve tried!” .

Ketiga, Tom nggak serius!. Di film ini digambarkan gimana susahnya si Tom move on dari Summer. Tapi ya, dianya gitu-gitu aja, ngga ada usaha apa-apa. Tom Cuma merasa ditinggalkan oleh Summer tanpa memperjuangkan Summer sepenuhnya. Malah cenderung pasarah dan patah semangat, seolah-olah dunia udah kelar, bzzzt. Menurut saya disini Tom keliatan banget bukan laki-laki dewasa yang tegas. Desperate ngga jelas. Padahal kalau dari sisi Summer, yang diharapkan Tom lebih inisiatif dan bertindak lebih dewasa, bukan jadi cowo yang “Everything you want me to, I will do”. Ada kalanya perempuan pengen diatur, bukan mengatur, kan?.

Keempat, tidak menghargai kemampuan diri sendiri. Yang kita tahu di film ini, Tom lulus dari sekolah arsitek, tapi dia justru kerja di perusahaan greeting cards for more than 2 years tanpa melakukan hal apapun, jadi dia stuck disitu-situ aja tanpa ada usaha apa-apa buat merubah hidupnya. Tom juga cenderung ngga percaya sama kemampuan dirinya sendiri sampai akhirnya Summer yang menyadari betapa berbakatnya Tom. Nah disini saya lihat hubungan Tom-Summer memang Cuma hubungan gak jelas, gak lebih dari temen, dan emang ga bisa diterusin kemana-mana kecuali seumur hidup memang cuma mau seneng-seneng aja tanpa ada target dan komitmen apapun.

Summer, pada dasarnya adalah perempuan mandiri dan berani. Sejak kecil dia tinggal sendiri karena orang tuanya bercerai. Well, anak yang orang tuanya ngga lengkap cenderung berbeda dengan anak yang orang tuanya lengkap, akan ada satu kekosongan pada diri mereka, entah sisi keibuannya atau sisi kepemimpinannya. Tapi Summer cukup berhasil menghadapi konflik tersebut dengan berhasil menjadi sosok yang berani ambil resiko, hal ini dimulai dari saat dia berani memotong rambut panjangnya yang amat sangat dia cintai, dan dia merasa biasa aja setelah rambutnya dipotong. Kalo disini saya tafsirkannya, Summer sudah siap dan udah biasa untuk kehilangan segala sesuatu yang dia cintai, karena sejak awal ia sudah kehilangan hal yang sangat ia cintai, yaitu keluarga. Nggak ada kesempatan lagi untuk terus menerus menyesali hidup dengan bersedih karena kehilangan sesuatu yang kita cintai. Let it go aja. Sejak remaja, Summer sudah bekerja serabutan kesana-kemari untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, sangat mandiri kan?!. Dan Tom? Just an ordinary boy.

Well, sebenernya anak yang dibesarkan dari keluarga yang ngga lengkap selalu haus akan kasih sayang dan pujian. Summer merasa sudah terlalu lama dia hidup sendirian, sedih? Pasti! (tapi udah biasa), jadi ia “melarikan diri” ke hal-hal yang bikin dia seneng untuk melarutkan rasa kehilangan dan rasa sedihnya. Di film ini ngga pantes dicontoh sih, Summer bergaul dengan banyak laki-laki cuma buat having fun (kalau dari sisi yang satu ini, saya ngga sepaham sama Summer). 

Ada satu scene saat di bar, dimana Summer dan Tom ngobrol tentang relationship dari sudut pandang mereka, dan saya rasa Summer’s quote ini udah banyak yang tau.

Disini keliatan banget kalo Summer masih berada pada masa-masa labil. Nggak mau terikat sama hubungan apapun.

But in the end of talks, ada keyword disini. Meskipun Summer berpendapat bahwa memiliki hubungan dan terikat pada suatu hubungan adalah suatu yang menakutkan,dia tetep ngga menutup kemungkinan jika suatu hari nanti ia pasti akan serius terkait dengan hal seperti ini. Means, sebenernya dia pun membenarkan bahwa menjalin sebuah hubungan dan komitmen masih mungkin untuk dilakukan.

Believe it or not, banyak perempuan yang punya pikiran seperti Summer. Beberapa karena sering kali dikecewakan oleh laki-laki atau seperti Summer yang ngga percaya sama cinta karena orang tuanya yang menikah dan punya anakpun masih bisa bercerai. Buat Summer dan perempuan lain punya pikiran kaya gini, kebanyakan mereka ingin merasakan mencintai dan sangat dicintai tapi mereka penuh dengan denial dan berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa hal itu udah ngga mungkin lagi (akibat dari pengalaman hidup atau orang tua) dan kemudian menyimpulkan bahwa cinta itu nggak ada. Bahwa komitmen itu nggak ada, yang nikah aja bisa cerai apalagi yang cuma pacaran, buat apa?


Namun pada akhirnya woman is still a woman. Saat ia tiba pada suatu titik dimana ia merasa sudah bosan, sudah penat dengan kehidupan yang ia jalani. Tiba masanya ia ingin bersandar pada satu sosok yang bisa melindunginya, membimbingnya dan menghargai mereka seutuhnya. Dan inilah yang terjadi pada Summer setelah 400hari lebih jalan nggak jelas sama Tom!. Summer mungkin memang menyukai Tom, bukan ngga mungkin ada rasa ingin bersama Tom selamanya. Tapi Summer yang sejak kecil terbiasa mandiri dan memiliki visi yang tinggi, Tom under qualified. Selama bersama Tom, pasti Summer selalu menunggu perubahan pada Tom, entah pada hubungan mereka berdua atau bahkan hanya pada hidup Tom sendiri. Jika Tom sendiri tidak dapat memperjuangkan apa yang diinginkannya (menjadi arsitek) bagaimana bisa ia memperjuangkan Summer? Jika Tom saja tidak bisa menghargai dirinya sendiri bagaimana ia bisa menghargai Summer? Karena Summer sadar bahwa sebuah hubungan tidak dapat dibentuk hanya dengan rasa “aku suka kamu, dan kamu suka aku”, nggak cukup!. That’s why Summer nggak pernah yakin sama Tom, even (I think) She loves him, actually.


Well, perempuan suka untuk diperjuangkan, karena memang begitulah mereka. Sehebat apapun perempuan, ia tetap perempuan, dan harusnya laki-laki nggak bisa “yaudah terserah kamu (perempuan) aja”, No! Saat perempuan bilang “yaudah”, “terserah”, “nggak papa”, pasti ada maksudnya, maksudnya kurang lebih begini “ I need more attention from you! Please understand me without I have to talk to you first”. (tsurhaaat)




Dan ending dari film ini sebenernya mau ngasih tau kita. Bahwa selama apapun kita pacaran (atau hubungan lain yang gajelas statusnya) belum tentu dengan orang tersebutlah kita menikah. Wanita akan lebih memilih mereka yang berani ngajakin nikah daripada mereka yang cuma berani ngajakin nonton, jalan-jalan, ngajakin pulang malem ngga jelas. Believe me, good woman do it! Dan terlebih, kita ngga tau rencana Tuhan seperti apa. If it’s meant to be, it will be. Jadi ngapain tetep bertahan sama hubungan yang ga jelas masa depannya kaya gimana, girls?



Jadi, sebagai laki-laki memang sepantasnya harus punya semangat yang lebih lebih dibandingkan wanita, punya inisiatif lebih. Because woman is still a woman and a man should be a real gentleman! (haseek)

Baik, sekian review dari saya sangat subjektif sekali. Mohon maaf apabila terlalu subjektif dan curhat tipis-tipis :p hehe. Yang jelas, saya Team Summer! Yey!



You Might Also Like

2 COMMENT