Untuk Misbah dan Elis, Aku ingin bercerita...

July 07, 2015

Aku tau sudah lama kita tak bertemu, tak ada kata atau sapaan kita lagi baik di dunia maya ataupun dunia maya.
Tapi, Misbah dan Elis... kalian lah orang yang aku ingin bercerita tentang apa yang aku ragukan pada diriku.


Bebeberapa bulan yang lalu di akhir tahun.
Misbah telah pergi, aku tidak tahu kapan dia wisuda, dan setelah itu ia pergi kemana.
Elis, seperti biasa. Selalu asik dan sibuk dengan dunia nya, bergerak bagai kupu-kupu dengan semangat juangnya yang terus sama.
Aku... sibuk dengan duniaku sendiri, dan yang sangat aku sesali aku terlalu merasa "menderita" hingga sedikit banyak aku menyerupai kaum yang kita hardik masa itu, kapitalis.

Misbah dan Elis,
Banyak orang bilang aku telah bersinar, atau aku telah berhasil membentangkan sayapku lebih tinggi.
Tapi tahukah engkau? ada rasa takut di dalamnya, aku takut terbang terlalu tinggi dan lupa bahwa aku berasal dari bawah pada awalnya.
Misbah, yang tetap mengabdi pada bidangnya di pelosok negeri, mengarungi kehidupan petani dan lebih dekat pada mereka. Aku yakin engkau bekerja bukan karena uang semata, aku tahu betul engkau siapa.
Elis, perempuan yang penuh inspirasi. Siapa yang tidak iri kepadanya? Menginisiasi budaya mendongeng yang kini sudah kian hilang. Mengorbankan kuliahnya, dan sendiri di kampus perjuangan itu karena satu visinya yang kuat. Perjuangan.
Aku? tidakkah aku terlalu egois? Betapa inginnya aku berada diantara kalian.
Sejak tiga bulan lalu, aku tidak pernah lagi pergi ke lapang. Aku tidak pernah melihat petani, aku berada di kota yang penuh dengan mereka yang kita hardik dulu bersama-sama.

Misbah dan Elis,
mungkin dalam 2 bulan aku akan pergi, jauh ke negeri seberang.
Doakan aku agar aku tak terbang terlalu tinggi, tidak berlari terlalu jauh.
Ingatkan aku bahwa aku berasal dari bawah, dan saat aku sudah terbang tinggi, tanggung jawabku pula meraih mereka untuk dapat terbang bersamaku.

Misbah dan Elis,
Suatu saat, aku harap suatu saat kita dapat bertemu lagi dalam memori yang sama,
Setidaknya meski jalan kita berbeda,
aku tak ingin jadi bagian dari mereka.
Biar kata mereka aku kampungan, aku anak desa.
Karena memang begitulah aku, disanalah aku berasal.
Dan disanalah aku akan kembali.
Aku akan sangat malu, jika suatu saat aku menjilat perkataanku sendiri.
Karena idealisme kita dulu, akan sangat berharga dimanapun kita berada.
Munafik jika manusia hidup tak membutuhkan uang, namun apakah uang adalah segalanya?

Misbah dan Elis,
Banyak orang menuntut perubahan,
Tapi mereka orang kaya, bagaimana dengan kita yang di desa?
Yang miskin, dengan penghasilan sehari hanya cukup untuk makan berdua?
Apa kabar mereka disana?

Misbah dan Elis,
Terimakasih atas idealisme mu yang tak pernah luntur,
Terimakasih, hingga detik ini aku masih iri pada apa yang kalian lakukan.
Aku akan kembali, dengan janji yang sama.
Atau setidaknya, aku bisa melakukan hal yang bermanfaat bagi mereka di desa.

You Might Also Like

0 COMMENT