Berpindah Universitas

September 14, 2015





If it's meant to be, It will be! -Nindya-



Konbanwa!
Selamat Malam.

Maafkan saya sudah lama tidak menulis di blog ini. Sedang dilanda kemalasan dan diiringi dengan persiapan yang agak sedikit riweuh.

Di post kali ini saya mau cerita tentang bagaimana proses saya mendapatkan LoA dan segala printilan-printilan yang harus saya kerjakan untuk dapat akhirnya berangkat ke Jepang pada tanggal 24 September nanti!
PS. Sebelum membaca saya harap teman-teman lebih mengarahkan diri untuk selalu berpikir positif terhadap pencapaian dan keputusan orang lain :)

Sebelumnya saya menceritakan bahwa saya medapatkan beasiswa LPDP dengan universitas tujuan Intitut Pertanian Bogor dengan prodi Entomology.
Well, saya mau cerita terlebih dahulu kenapa saya mengambil jurusan tersebut.

Di pendidikan Strata 1, saya masuk dalam program studi Agroekoteknologi yang mempelajari pertanian mulai dari pra tanam hingga pasca panen, dan pada semester keenam saya memfokuskan pendidikan saya di jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan. Dalam tugas akhir, saya melakukan penelitian tentang Jamur Patogen Serangga, Beuveria bassiana, dengan judul Tugas Akhir “Pengaruh Pengkayaan Media dan Suhu Penyimpanan Terhadap Kerapatan Dan Viabilitas Konidia Jamur Patogen Serangga Beauveria Bassiana (Balsamo) Vuillemin (Hypocreales : Cordycipitaceae)”. Tujuan utama dari penelitian ini adalah dalam rangka mendukung penelitian tentang biopestisida yang ramah lingkungan yang tidak menyebabkan resistensi dan resurgensi bagi Organisme Pengganggu Tanaman. B. bassiana adalah salah satu spesies dari jamur patogen serangga yang sering digunakan sebagai agens pengendali hayati pengendali OPT yang ramah lingkungan. Karena faktanya di lapang, petani lebih memilih penggunaan pestisida kimia sintetik, bahkan tak jarang penggunaannya terlalu berlebihan. Penggunaan yang berlebihan ini justru sebenarnya menyebabkan permasalahan OPT yang lebih kompleks. Untuk dapat mendukung salah satu tujuan pertanian masa depan yang sehat dan berkelanjutan, saya ingin melakukan penelitian lebih lanjut mengenai agens pengendali hayati, khususnya jamur pathogen serangga, B.bassiana. Saya memilih Program Studi Entomologi karena saya ingin mengembangkan bidang penelitian saya dalam spektrum yang lebih luas. Mengingat jamur B.bassiana adalah salah satu patogen serangga yang merupakan jamur endofit pada tanaman, saya bertujuan untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang Pengembangan jamur B.bassiana menjadi endofit dengan cara inokulasi pada tanaman dan potensinya sebagai pengendali biologis endofitik terhadap organisme pengganggu tanaman.

Saya memiliki gambaran bahwa pada pada studi dan penelitian saya di jenjang master nantinya lebih mengarah pada bioteknologi dan molekuler mencakup analisis mekanisme regulasi biosintetik mikroorganisme, pengembangan metode pertahanan terhadap mikroorganisme patogen tanaman, screening senyawa bioaktif baru dari jamur entomopatogen, produksi senyawa bioaktif yang berasal dari mikroorganisme dan lain-lain. Mengingat di Indonesia penelitian mengenai kedua bidang tersebut masih belum banyak dilakukan, khususnya dalam bidang bioteknologi pertanian.

Kemudian, mengapa saya mengambil tindakan untuk pindah universitas?
Seperti yang saya ceritakan di atas, bahwa saya mempunyai mimpi untuk dapat melakukan riset yang nantinya dapat memberikan alternatif pengendalian OPT yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan, sehingga petani dapat menekan biaya produksi dan mendapatkan keuntungan dari hasil panen mereka. Selain itu, saya berharap adanya secondary advantages dari penelitian yang saya lakukan. Mengingat penelitian akan dilakukan dengan cara eksplorasi mikroorganisme, bukan tidak mungkin saya akan mendapatkan banyak sekali mikroorganisme bermanfaat yang memiliki fungsi masing-masing. Namun, untuk dapat mengetahui manfaatnya bagi kehidupan, tidak cukup hanya dengan melakukan penelitian secara "kasar", melainkan akan lebih spesifik apabila dilakukan penelitian secara molekuler.

Bioteknologi merupakan suatu bidang penerapan biosains dan teknologi yang menyangkut penerapan praktis organisme hidup atau komponen selulernya pada berbagai produk industri. Dalam bidang pertanian, bioteknologi dilakukan salah satunya dengan memanfaatkan bakteri, jamur/ cendawan, alga, actinobacteria dan mikroorganisme lain menjadi produk pertanian, salah satunya adalah biopestisida. Pada Saat S-1 saya tetarik mengambil bidang bioteknologi serangga spesifik pada cendawan pathogen serangga yang dapat dimanfaatkan sebagai biopestisida dan Plant Growth Promoting Rhizobium (PGPR).  Mengingat Indonesia merupakan Negara dengan wilayah banyak mengandung plasma nutfah, baik flora atau fauna, maka pengembangan bioteknologi sangat memungkinkan. Banyaknya  biopestisida, pupuk hayati, dan PGPR yang berbahan dasar mikroorganisme agens hayati sebagai upaya mengurangi residu kimia di lingkungan pertanian merupakan salah satu bukti bahwa bioteknologi sangat diperlukan di masa mendatang. Perkembangan ini membuat saya tertarik untuk mengambil bidang bioteknologi pada jenjang pendidikan selanjutnya sebagai bekal untuk mengembangkan penelitian tentang mikroorganisme bermanfaat yang jumlahnya melimpah dan potensial yang belum banyak diteliti  di Indonesia. 

Mengapa saya memilih pindah Universitas dari IPB ke Osaka University, Jepang?
Pertama, saya mendapatkan rekomendasi ini dari dosen pembimbing saya Ibu Rina. Beliau adalah alumni Osaka University, dengan bidang ahlinya tentang filamentous fungi, khususnya Cordyceps sp. Btw, B.bassiana merupakan spesises jamur famili Cordycipitaceae yang merupakan satu famili dengan Cordyceps cp. Melihat beliau yang begitu paham tentang mikroorganisme ini sampai dengan bagian yang amat sangat printilan sekali, dan mendengar cerita beliau tentang keseruan penelitian secara molekuler serta menemukan ribuan manfaat dari penelitian tersebut, saya menjadi termotivasi untuk mendapatkan ilmu yang jauh lebih dalam. Kedua,

Pemilihan Department Advanced Science and Biotechnology, Graduate School of Engineering, Osaka University, karena jurusan ini menawarkan apa yang saya ingin pelajari mencakup analisis mekanisme regulasi biosintetik mikroorganisme, pengembangan metode pertahanan terhadap mikroorganisme patogen tanaman, screening senyawa bioaktif baru dari jamur entomopatogen, produksi senyawa bioaktif yang berasal dari mikroorganisme dan lain-lain. Departemen ini telah meneliti banyak mikroorganisme salah satunya dengan cara eksplorasi di negara-negara asia tenggara termasuk Indonesia. Selain itu, departemen ini memiliki salah satu pusat penelitian Bioteknologi terbesar di Asia yaitu International Center for Biotechnology (ICB) Osaka University, yang telah meneliti banyak plasma nutfah dari seluruh dunia dengan dukungan tenaga ahli dari seluruh penjuru dunia. Dengan belajar di departemen ini saya berkesempatan untuk mendalami ilmu bioteknologi khususnya dalam hal pemanfaatan dan pengaplikasian mikroorganisme bermanfaat baik pada tanaman, tanah, dan juga daerah lautan yang dapat diapalikasikan di Indonesia nantinya. 

Dengan beberapa alasan di atas, saya akhirnya memutuskan untuk pindah dengan mengikuti prosedur yang telah ditetapkan oleh LPDP.

Belajar di luar negeri tidak sama halnya dengan stereotype kebanyakan orang yang lebih menekankan pada "luar negeri". Negeri orang yang belum pernah kita kunjungi dan identik dengan jalan-jalan atau tamasya semata.

Pada tahun 2013, saya berkesempatan mengunjungi salah satu Universitas di Jepang yaitu, Yamaguchi University, selain untuk mengikuti Seminar. Disana saya bertemu dengan banyak siswa dari penjuru dunia. Kami membicarakan tentang penelitian yang kami lakukan masing-masing. Pada masa itu, saya sangat takjub dengan penelitian mereka yang buat saya sangat asing (maklum penelitan saya cuma sebatas makroskopik aja). Jujur pada saat itu saya nggak nyambung dengan apa yang mereka bicarakan, dan agak ngga begitu PD menceritakan tentang penelitian saya. Tapi ya sayanya PD-PD aja waktu itu, toh itu seminar, dan kayaknya saya ga bakalan ketemu mereka lagi haha, cuma dia akhir saya lumayan dibombardir dengan beberapa pertanyaan yang bikin saya errh-errh buat ngejawabnya. Kemudian saya sempat diajak berkeliling kampus. Saya takjub dan gemas sekali, disana tiap mahasiswa memiliki kelengkapan alat-alat lab dan bahan-bahan pendukung penelitian mereka secara pribadi. Alat-alat laboratorium lengkap sekali, dan beberapa "dijatah" satu mahasiswa satu alat. Betapa bahagianya. Sementara di kampus saya, untuk menggunakan satu mikroskop saja kami harus rela antri dan lembur sampai tengah malam. Alat dan bahan penelitian kami harus beli sendiri. Isolasi mikroorganisme seringkali terkontaminasi, hingga sepertinya sudah hal yang biasa jika kami harus mengulang penelitian karena alasan kontam hehe. 

Namun demikian, saya sadar akan ada tantangan yang besar saat saya memutuskan untuk belajar di luar negeri, khususnya jepang. Dan FYI, saya nyebrang jurusan, dari Agriculture ke Engineering. wohooo! udah kebayang puyeng-puyengnya hehe. Sensei saya, di awal wawancara sudah memperingatkan saya bahwa jadwal di lab Beliau akan sangat padat, sehingga Beliau berkali-kali mengingatkan bahwa saya harus bekerja keras jika ingin lulus dengan baik.

Jadi, saya ngga ada kepikiran jalan-jalan di luar negeri sampai detik ini. Mekipun nggak dipungkiri rasa "pengen" pasti ada. Tapi saya sekarang lebih mempersiapkan mental dan fisik aja sih buat disana, hehe. Apalagi, saya ngga bisa bahasa Jepang sama sekali kecuali Ohayou, Konichiwa, Konbanwa, Ittekimas dan lain-lain yang simple gitu :p.


Doakan saya yah! wkwkwk

Setelah kuliah, apa tujuannya?
Sebenarnya, tujuan utama saya lanjut kuliah adalah sebagai syarat mendaftar menjadi dosen. Mengingat persyaratan menjadi dosen mengharuskan memiliki tingkat pendidikan minimal S2, oleh karena itu saya kuliah lagi.
Tapi, saya punya mimpi, yang mungkin kata orang terlalu muluk atau terlalu konyol. Saya ingin menciptakan suatu produk yang dapat memudahkan petani di Indonesia, meminimalisir residu kimia, dan memudahkan pekerjaan petani. Karena saya sudah berkesempatan untuk mengenyam pendidikan di negeri orang dengan ilmu yang insyaaAllah lebih baik, saya merasa saya punya hutang yang harus ditunaikan agar ilmu yang saya dapat tidak untuk saya makan sendiri.
Menjadi dosen berarti menjadi pendidik, menjadi kawan bagi generasi muda, khususnya dalam bidang pertanian. Menjadi dosen ibarat menanam padi, menanam benih demi menghasilkan bulir-bulir yang lebih banyak. Saya akan mengabarkan pada mereka bahwa Sawah, Petani, dan apa yang kita makan telah terikat oleh satu rantai yang tak terpisahkan. Oh ya, mungkin sebagai alternatif liburan, saya bisa jalan-jalan ke sawah-sawah di Jepang nantinya untuk belajar Jutsu dalam dunia pertaniannya, untuk nantinya bisa dicontek di Indonesia. 

Kenapa saya mau jadi dosen?
Karena dosen memiliki peran yang besar untuk memajukan anak bangsa. Dengan menjadi dosen, saya dapat secara langsung memberikan wawasan tentang pertanian dan pentingnya pertanian bagi kehidupan kepada generasi muda. Dengan bekal ilmu yang lebih tinggi dan status sebagai seorang dosen, saya juga ingin bekerja sama dengan pihak universitas tempat saya menjadi dosen kelak untuk memberikan sekolah lapang atau penyuluhan kepada masyarakat pada umumnya dan petani khususnya tentang pertanian, baik pada skala rumah tangga maupun skala lapang dengan menerapkan system pertanian yang sehat, ramah lingkungan dan berkelanjutan secara ekologi dan ekonomi. Sehingga dengan harapan, masyarakat Indonesia dapat mewujudkan swasembada pangan mulai dari tingkat rumah tangga. 
Dosen juga manusia, tapi dosen bukan dewa. Dosen adalah kawan, dosen adalah pelayan bagi masyarakat dalam pengabdiannya, dosen adalah penyampai ilmu pada masyarakat. Dan dengan menjadi dosen, saya akan terus belajar, baik dari kelas maupun dari lapangan, insyaaAllah.

Bismillah, if it's meant to be, it will be :)

Salam,
Nindya



You Might Also Like

2 COMMENT