Mendaftar Beasiswa LPDP

September 14, 2015


Halo, salam Zemangadh!

Di halaman kali ini, saya akan khusus menceritakan pengalaman saya tentang LPDP!
Sebenarnya sudah lama saya ingin menulis tentang ini, tapi as I said before, saya suka engga PD menceritakan hal-hal yang belum saya benar-benar raih *kalem*.

Oke baiklah.

Sebelumnya saya akan menjelaskan tentang, “Apa itu LPDP?”
Lembaga Penyedia Dana Pendidikan (LPDP) adalah Lembaga penyedia bantuan dana Pendidikan dari pemerintah Indonesia, yang berada di bawah Kementrian Keuangan, Kementrian Agama, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Melalui Keputusan Menteri Keuangan (KMK) Nomor 18/KMK.05/2012 tanggal 30 Januari 2012, LPDP ditetapkan sebagai instansi pemerintah yang menerapkan pola keuangan Badan Layanan Umum. Beberapa beasiswa yang diberikan LPDP antara lain Beasiswa Magister dan Doktor, Beasiswa Afirmasi, Beasiswa Thesis dan Desertasi, Beasiswa Doktor Spesialis, dan Presidential Scholarship. Selain itu, LPDP juga memberikan bantuan untuk pendaan riset. Untuk informasi lebih detail mengenai LPDP dapat dilihat disini.

Nah, jadi ceritanya begini......

Saya memang sudah lama berkeinginan untuk melanjutkan studi jenjang magister, namun pada awalnya, tidak terpikir oleh saya untuk mendaftar beasiswa. Pada saat itu, saya berpikir untuk mendaftar kuliah terlebih dahulu dan mencari beasiswa (semacam PPA semasa kuliah S1 atau beasiswa dari perusahaan) pada saat sudah menempuh sekolah S2. Saat itu awal bulan November, seorang teman yang memiliki mimpi yang sama dengan saya memberi tahu saya tentang beasiswa dari kementrian keuangan yang bernama LPDP. Awalnya, saya sudah pesimis dan merasa “da, aku mah apa atuh mau daftar beasiswa”, saya tidak merasa mempunyai prestasi luar biasa karena semasa kuliah S1 saya lebih memilih fokus menjadi asisten dosen dan asisten praktikum daripada aktif di organisasi mahasiswa kecuali Pers Mahasiswa. Saya lebih menyukai aktif di kegiatan belajar dan mengajar non-organisasi di kampus. Sedangkan teman saya ini adalah seorang aktivis yang penuh dengan banyak prestasi. Namun teman saya ini semangat sekali!. Dia lah yang “ngoprak-ngoprak” saya untuk semangat daftar beasiswa dan selalu mendukung saya dengan meyakinkan bahwa saya bisa. Namanya Eka Katini, anak Bandung, teman saya yang amat baik pada saya selama kuliah. Setiap ke kampus (saat itu saya belum wisuda karena masih menunggu antrian wisuda selanjutnya), Eka selalu seperti menodong saya mentah-mentah “Nindya, gimana rekomendasinya sudah?”, “Nindya, gimana essay nya sudah?”, “Nindya, udah makan belom?” (yang terakhir bo’ong deng).

Sebelum melakukan pendaftaran online, saya harus membuat 3 essay dengan Judul Peranku bagi Indonesia, Sukses Terbesar dalam Hidupku, dan Rencana Study. Saat itu, saya tidak mempunyai senior atau kenalan awardee LPDP, tapi untunglah saya bertemu dengan salah satu senior saya yang pernah mendaftar LPDP sampai dengan tahap wawancara, Pak Fandi Rizki Rosyari. Saya cukup mendapatkan tips dan “bocoran” terkait penulisan essay dan cerita beliau selama mengikuti seleksi sampai dengan tahap tersebut. Selain essay, saya harus mempersiapkan surat rekomendasi untuk mendaftar beasiswa.. Saat itu saya meminta rekomendasi dari Professor saya, dari Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Universitas Brawijaya, dan Dekan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Pendaftaran LPDP saat itu ditutup tanggal 19 November 2014. Rekomendasi saya dapatkan tanggal 4 November 2014, dan saya baru wisuda tanggal 15 November 2014. Setelah wisuda, saya langsung melengkapi berkasi-berkas (dapat dilihat disini) dan menguploadnya pada tanggal 18 November 2014, mepet banget. Saat itu saya merasa saya sudah cukup totalitas dalam melengkapi berkas pendaftaran, tapi saya sadar saya memang kurang kesiapan karena masih riweuh pasca wisuda, jadi saya tidak terlalu berharap banyak.

Kalau tidak salah, tanggal 25 November 2014, hasil seleksi berkas sudah diberitahukan kepada setiap pendaftar. Dan Subhanallah, tidak pernah saa kira sebelumnya bahwa tahap pertama saya lalui. Senang bercampur rasa “kok bisa ya” bercampur pada saat itu. Perasaan shock pun saya dapatkan karena ternyata teman saya yang justru selalu mengingatkan saya untuk mendaftar, Eka, belum lolos seleksi untuk kali ini.

Setelah hasil seleksi berkas diumumkan, saya kemudian menunggu jadwal seleksi selanjutnya yaitu wawancara dan Leaderless Group Discussion (LGD). Karena banyaknya pendaftar, seleksi wawancara dan LGD dilaksanakan selama dua hari tergantung jadwal yang telah diberikan. Saya mengambil lokasi seleksi di kota Surabaya yang kebagian jadwal tanggal 9-10 Desember 2014. Setelah jadwal diberikan melalui email, saya mendapatkan lokasi seleksi di Gedung Kahuripan Kampus C Universitas Airlangga dengan jadwal tes LGD dan wawancara dalam satu hari yang sama yaitu 9 Desember 2014.

Karena saya saat itu masih berdomisili di Malang, saya meminta pertolongan kepada teman SMA saya Hepy Diana untuk “menampung” saya di kosannya sebentar untuk mengikuti seleksi LPDP selanjutnya. Saya sampai di Surabaya tanggal 7 Desember malam, dan paginya tanggal 8 Desember Hepy dengan senang hati membantu saya melihat lokasi tes untuk esok harinya. Terimakasih Hepy!

Pagi hari, 9 Desember 2014, pukul 06.30 WIB saya sudah tiba di lokasi tes, sekali lagi diantar oleh Hepy. Suasana masih sepi saat itu karena waktu seleksi yang dijadwalkan adalah pukul 08.00 WIB haha (kepagian, gapapa, sip). Dengan berbekal roti dan sekotak susu UHT, saya sempet-sempetin sarapan dulu waktu itu. Suasana makin ramai, pendaftar yang lolos seleksi berkas mulai datang satu persatu. Saya mulai mengeluarkan jurus SKSD yang manis buat kenalan sama mereka sambil becanda dan malu-malu manja *apaansih*.

Pukul 08.00 WIB pas, kami masuk ke dalam Aula gedung Kahuripan untuk melakukan briefing oleh seseorang yang saat itu tidak saya kenal yang pada akhirnya ternyata sangat terkenal di kalangan awardee (nanti saya ceritain siapa Beliau). Ditempat ini kami di-briefing secara singkat mengenai teknis seleksi dan perpindahan dari seleksi satu ke seleksi selanjutnya. Waktu itu saya kebagian tes LGD terlebih dahulu, baru setelahnya tes wawancara.

Leaderless Group Discussion (LGD)
Sebelum melakukan tes LGD, kami dibagi menjadi beberapa kelompok satu kelompok terdiri dari 10 orang. Saya mohon maaf, saya sudah lupa teman-teman saya satu tim LGD, my bad (Tapi saya yakin kok, saya masih ingat mereka kalo ketemu di jalan). Kami kebagian jadwal LGD pukul 10.00 WIB, selama menunggu jadwal saya sempet-sempetin diskusi dengan teman-teman satu tim LGD. Kami sharing tentang banyak informasi. Saya pun berbagi cerita tentang pengalaman saya mengikuti Forum Group Discussion (FGD) saat beberapa kali mengikuti campus hiring perusahaan (namun tidak saya ambil karena tidak cocok dengan hati nurani). Kemudian datanglah seseorang yang saat itu tidak saya kenal yang pada akhirnya ternyata sangat terkenal di kalangan awardee (nanti saya ceritain siapa Beliau), menyapa kami dengan ramah. Beliau menanyai kami satu persatu tentang asal universitas dan asal jurusan, “Dari Universitas mana aja nih? Jurusan apa?”, setelah kami jawab beliau tetap senyum ramah banget, dan memberikan semangat yang intinya “Semoga sukses ya!”.

Tiba giliran kamu masuk ruangan tes LGD. Seperti layaknya FGD, pada tes ini kami duduk melingkar dan diberi satu topik permasalahan untuk kami diskusikan. Saat itu kami mendapatkan permasalahan terkait kasus pelecehan seksual di Jakarta International School (JIS). Perbedaan antara FGD dan LGD, menurut saya adalah pada saat LGD kami tidak diharuskan memiliki moderator, notulensi dan tidak harus menyimpulkan hasil diskusi kami di akhir. Kami cukup memulali diskusi layaknya ngobrol person to person. Beberapa hal yang dapat saya simpulkan baik FGD maupun LGD adalah tetap rendah hati dan jangan merasa paling bisa meskipun kita paham benar dengan materinya, jangan terlalu menjustifikasi pendapat orang lain melainkan tetap hargailah jawaban mereka, perbuatan mendominasi dan terlalu menonjol menurut saya justru memberikan kesan yang negatif untuk tes LGD maupun FGD sekalipun. Kalau saya kemarin sih, saya menjawab dengan memuji terlebih dahulu apa yang menjadi pendapat teman diskusi saya, baru setelah itu saya menjelaskan mengapa saya setuju atau mengapa saya tidak setuju, karena pada dasarnya semua pendapat itu benar. Apabila kita paham tentang materinya, coba jawablah dengan mengutarakan fakta yang pernah ada. Tetap lakukan eye contact dengan teman diskusi kita, dan tetap pay attention saat teman diskusi kita mengutarakan pendapatnya. Jangan melamun, apalagi keinget mantan pada saat genting seperti itu *aapaaassiih*

Setelah melakukan tes LGD, kami satu tim keluar aula. Dan sebenarnya kami sempat berfoto bersama loh, malah sempet selfie. Tapi apalah daya saya, HP berkata lain. Karena ingin mengikuti tren masa kini, setelah saya upgrade OS, semua foto hilang dan lupa ga saya backup. KZL.

Tes Wawancara
Setelah melakukan tes LGD kami lanjut ke tes wawancara, bagi yang kebagian jadwal LGD dan wawancara di satu hari yang sama. Sebelum tes wawancara kami harus melakukan checklist dengan panitia. Semua berkas yang di upload online pada saat seleksi berkas harus dibawa pada hari itu untuk ditunjukkan pada panitia. Alhamdulillah saya aman. Weits… jangan salah, pada saat itu ada beberapa kasus loh, ada beberapa peserta yang hanya membawa legalisir ijazah dan tidak membawa ijazah asli, akibatnya dia tidak diizinkan untuk mengikuti tes wawancara sebelum menunjukkan ijazah asli.

Saat itu, ruangan wawancara terbagi di banyak ruang, saya kurang tau dulu pastinya ada berapa ruang, yang saya ingat saya kebagian ruang wawancara 7. Dalam satu ruang wawancara, terdapat dua meja untuk dua orang peserta wawancara, satu meja terdapat tiga orang pewawancara. Nama saya dipanggil, nama lengkap, kemudian saya deg-degan ngetz. Sebelum memasuki ruangan wawancara, saya mengetuk pintu, memberi salam, dan tersenyum, hal ini saya lakukan untuk meminimalisir rasa grogi. Banyak yang tanya sama saya “Nind, seleksi wawancaranya pake bahasa Indonesia apa Bahasa Inggris?”. Ini adalah pertanyaan yang memiliki jawaban random, karena tidak semua pewawancara akan bertanya pada kita menggunakan satu bahasa yang sama. Maksud saya ngga pasti wawancaranya pake Bahasa Inggris, bisa jadi menggunakan bahasa Indonesia pula. Tapi kalau takut sama wawancara pakai bahasa Inggris, persiapan di awal menurut saya ngga ada salahnya. Saya mencoba untuk sesantai mungkin, sehingga detak jantung saya ngga disko berlebihan. Saat itu saya sangat beruntung, dari awal hingga akhir saya mendapatkan wawancara full English meskipun pada saat itu saya mendaftar beasiswa Magister Dalam Negeri. Pewawancara saya juga asyik, saya ngerasanya malah ga lagi tes wawancara, malah semacam ngobrol dan diskusi gitu. Alhamdulillah, efek santai kali ya. Pokoknya senyum aja, santai, insyaaAllah kalo yakin dimudahkan pasti dimudahkan kok.

Setelah selesai tes wawancara, pukul 14.30 WIB saya keluar ruangan wawancara. Saya memastikan terlebih dahulu bahwa tidak akan ada acara atau jadwal lagi setelah saya mengikuti kedua tes. Setelah pasti, kemudian saya pulang.

Karena waktu itu Hepy sedang menyusun tugas akhir di kampusnya, Unair kampus B. Saya janjian untuk ketemuan di perpus aja. Saya naik bus kampus yang mereka sebut dengan Flash (gatau bener apa ngga tulisannya, pokoknya terdengan seperti itu) dari kampus C ke kampus B. Bisnya semacem Bis Kuning UI, bedanya bus ini melewati jalan raya dan cukup terjebak macet pula. Maklum saya ngga pernah jalan-jalan, ternyata UNAIR besar juga ya *apaanlagi*. Beberapa saat setelah saya naik bis, hujan turun deras sekali, bahkan disertai angin. Pertanda apakah iniii? Pertanda banyak rejeki insyaaAllah.

Yah segitu dulu ya ceritanya tentang proses pendaftaran LPDP sampai dengan tahap seleksi wawancara dan LGD. Saya akan cerita apa yang terjadi pada saya selanjutnya setelah tanggal 9 Desember 2014 (itupun kalo kalian mau tau *hiks). See you next post!

PS. Terimakasih Eka Kartini, Fandi Rizki Rosyari, Hepy Diana, Rizki Wulandari, Sabrina sitoresmi, Rossy Wardhana, dan Rahadyan Rizki.

You Might Also Like

0 COMMENT