Antara Wanita Independen dan Wanita Galau

February 24, 2016

Membaca sama dengan jatuh cinta. Tidak mudah untuk membaca satu buku hingga selesai, namun jika kita benar-benar mencintai buku itu, apapun akan dilakukan untuk menyelesaikannya hingga halaman terakhir.


Saya tidak begitu suka membaca. 

Namun kali ini, saya benar-benar masuk dalam sebuah jalan cerita yang luar biasa. Yang setiap kali di akhir kalimat, saya ingin menyerukan "saya setuju!". Jarang sekali saya dapat membaca dengan semangat hingga tak mau berhenti.

Dan dia yang mampu membuat saya jatuh hati adalah Ayu Utami. Betapa saya sangat pro dengan beliau setelah membaca bukunya Si Parasit Lajang. Buku ini berisi cercahan pikiran dan keseharian seorang perempuan muda urban. di akhir usia duapuluhan ia memutuskan untuk tidak menikah dan menyebut diri si parasit lajang (istilah yang dilontarkan feminis jepang). Ia terkesan sangat cuek, tapi di pihak lain ia sangat mengamati dan memperhatikan keadaan di sekelilingnya. 

Saya membaca buku ini di pertengahan tahun 2012. Dan benar, buku ini mengubah sudut pandang saya tentang apapun yang ada disekitar saya. Tidak berhenti di satu buku, saya melanjutkan membaca bukunya yang berjudul Cerita Cinta Enrico dan  Pengakuan eks Parasit Lajang. Namun, saya tidak menuntaskan membaca buku terakhir, karena menurut saya, jalan pikiran saya sudah berbeda dengan sang penulis. Dan lebih merasa aneh saat saya membaca karya yang terakhir.

Saya rindu buku-buku ini, dan ingin membacanya lagi :(
Well, berdasarkan sepengetahuan saya, karya Ayu Utami ini bahkan beberapa kali dijadikan kajian untuk bahan tugas akhir rekan-rekan dari psikologi dan sastra. 

Saya paling suka buku pertama, Si Parasit Lajang. Menurut saya di buku ini, A (tokoh utama dalam buku ini) benar-benar memiliki kebebasan berpikir. Saya berulang kali menyerukan "saya setuju" setiap membaca hingga akhir kalimat. Disini dia bercerita tentang bahwa menikah bukanlah impian semua wanita. Masih banyak hal lain yang bisa dilakukan oleh seorang perempuan selain hanya untuk menikah. "There are a lot of accomplishment women can do, not only getting married". 

“Jika perkawinan ibarat pasar, orang-orang yang memutuskan tidak menikah sesungguhnya mengurangi pasokan istri seperti OPEC mengatur suplai minyak. Saya percaya berkeluarga itu bagus untuk orang lain.”

Menurut saya, buku ini terbagi menjadi tiga bagian, bagian pertama tentang Kehidupan, bagian kedua tentang Seks, Gender & Kapitalisme, dan bagian ketiga tentang Politik dan Negara. Disini Ayu Utami menceritakan tentang sudut pandangnya mengenai masa-masa Orde Baru, pengalamannya sebagai wartawan Tempo yang dibungkam dan dibredel pada masa itu. Sudut pandangnya mengenai agama dan seks. Benar-benar Freedom of mind!.

Di buku ini, Ayu Utami seolah-olah ingin menceritakan tentang perempuan sebenarnya. Yang mungkin selama ini, khususnya di Indonesia, dipandang sebagai sosok yang "polos". Diantara teman-teman saya, masih banyak sekali yang berpikiran bahwa menonton porn dan masturbasi hanya bisa dilakukan oleh laki-laki. Disini, Ayu Utami menegaskan betapa ia sangat memuji sang aktor porn Rocco Sifredi hahaha. Memang sih, bahasa di buku ini bisa dikatan vulgar bagi mereka yang menganggap vulgar. Namun bagi saya yang sudah cukup dewasa, bahasa buku ini biasa saja :p

Bahasa yang digunakan Ayu Utami sangat frontal, sedikit banyaknya apa yang dia ucakan sangat mengena, dan ada rasa "gotcha" atau "makjleb" setiap membacanya. Sesekali tertawa puas, sesekali tertawa nyengir. haha

Pokoknya, Si Parasit Lajang, sangat saya rekomendasikan untuk dibaca bagi kalian yang berpihak pada kaum feminis. Well, memang sih bahasanya mungkin untuk beberapa orang termasuk vulgas, tapi saran saya, coba sedikit open minded waktu baca, dan mencoba untuk benar-benar netral. hehe

Saya merasa bahwa buku ini disusun dengan tujuan yang mulia, yakni memberikan perspekif baru. Tulisan-tulisan di dalamnya mengajak pembaca untuk membuka kesadaran akan konstruksi sosial yang ada di tatanan masyarakat kita. Bahkan, pada beberapa bagian, sang penulis terang-terangan untuk mengubah nilai-nilai sosial dengan nilai-nilainya sendiri.

Menariknya, meski yang dibahas sepintas terasa berat –tentang hierarki, budaya patriarki, seksualitas, dan banyak lainnnya– namun, Ayu mengemas tulisan di dalamnya dengan bahasa yang ringan. Sehingga, seolah-olah, kesan bahwa buku ini memiliki bahasan berat dan serius hilang. Upaya pengemasan agar kesan “berat” itu tadi hilang juga dapat kita lihat dengan adanya sketsa-sketsa kecil yang ada dalam buku ini. Overall, buat saya buku ini memberikan cukup banyak insight baru.
Cerita Cinta Enrico 

Panser itu berhenti.

Aku siap mati. Tapi aku tidak membayangkan bahwa para mahasiswi siap mati tak hanya untuk cita-cita luhur, tetapi juga untuk melindungi kami, teman-temannya. Aku selalu merasa bahwa perempuan sering jauh lebih tangguh daripada laki-laki. Dan mereka memikirkan kehidupan, bukan kegagahan. Kami, para lelaki, sering melakukan sesuatu demi kegagahan. Tapi kaum perempuan berbuat demi kehidupan. Lelaki sering berbuat untuk egonya sendiri, sedang perempuan berbuat untuk orang lain. Tiba-tiba aku teringat Sanda, kakakku, yang menyelamatkan aku dari serangan ayam hitam pemakan anak kecil.
Cerita Cinta Enrico adalah kisah nyata seorang anak yang lahir bersamaan dengan Pemberontakaan PRRI. Ia menjadi bayi gerilya sejak usia satu hari. Kerabatnya tak lepas dari peristiwa '65. Ia menjadi aktivis di ITB pada era Orde Baru, sebelum gerakan mahasiswa dipatahkan. Merasa dikebiri rezim, ia merindukan tumbangnya Soeharto. Akhirnya ia melihat peristiwa itu bersamaan dengan ia melihat perempuan yang menghadirkan kembali sosok yang ia cintai sekaligus hindari: ibunya.

Cerita Cinta Enrico adalah kisah cinta dalam bentangan sejarah Indonesia sejak era pemberontakan daerah hingga Reformasi.Di buku ini, berisi tentang sudut pandang Enico yang nantinya menjadi suami si A tokoh utama di buku Pengakuan eks Parasit Lajang. (Goodreads)

Di buku ini (sekali lagi) kalimat yang digunakan cukup vulgar. Dari sudut pandnag Enrico yang sangat mencintai ibunya yang akhirnya menemukan "sosok" sang ibu pada diri A. Ibunya adalah wanita kota yang sangat merdeka. Memakai rok pendek dan berpantofel dimana pada masa itu kebanyakan perempuan masih terikat oleh adat dan memandang perempuan seperti ibunya adalah orang yang terpengaruh oleh dunia barat. Ada banyak quote di buku ini yang menurut saya wajib untuk diabadikan, seperti:
“May, tahu surat Rasul Paulus kan? 1 Korintus 13. Pada akhirnya adalah tiga hal ini: iman, pengharapan, dan kasih; dan yang paling besar di antaranya adalah kasih. Berbuat kasih itu lebih besar daripada iman sekalipun. Kok bisa menyiar jadi segala-galanya!”
― Ayu Utami, Cerita Cinta Enrico
FYI. Tokoh A adalah seorang Katolik, yang orangtuanya adalah seorang yang taat. Jadi seperti buku sebelumnya,  kosongkan pikiran kalau perlu sebelum membaca! Karena yang membuat sebuah cerita itu bagus atau tidak adalah penceritanya sendiri.  Nikmati saja. Baca. Karena Cerita Cinta Enrico ini begitu mengalir, mudah dipahami, seperti mendengar Ayu berkisah bercerita di depan panggung.
”Jika angin itu sedang menerpa lawan mainmu, biarkan dia di atas angin. Sama seperti dengan perempuan, kau harus tahu kapan kau di aatas dan kapan di bawah. Jangan kau paksa dia membuka kartunya. Tinggal pandai-pandai kau membaca angin itu. Aku tak pernah kalah telak, sebab aku tahu kapan berhenti.” (h.140)

Pengakuan eks-parasit Lajang

Jujur, saya tidak begitu ingat dan tidak menuntaskan buku ini karena saya cukup kecewa dengan keputusan A. Yang di awal menyatakan bahwa, menikah bukanlah kewajiban. Namun pada akhirnya, di buku ini dia memutuskan untuk menikah secara katolik. Meskipun dia bilang, mereka memutuskan menikah namun akan menjalaninya dengan cara mereka sendiri, tetap saja judulnya menikah (hahahaha)

Berdasarkan review Goodreads, 

Novel ini menceritakan perjalanan hidup tokoh utama yaitu A yang berontak terhadap nilai-nilai kehidupan. Dia memutuskan untuk melepaskan keperawanannya di usia dua puluh, untuk sekaligus menghapus konsep keperawanan yang baginya tidak adil. Konsep keperawanan yang selalu dijadikan patokan laki-laki dalam menentukan kepantasan baginya untuk menikahi perempuan yang merupakan norma umum di masyarakat. Selama bertahun-tahun ia mencoba melawan nilai-nilai adat, agama, dan hukum yang patriarkal. Patriarkal atau partiarki merupakan sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai sosok otoritas utama yang sentral dalam organisasi sosial (keluarga) namun tidak demikian dengan tokoh A. Dia menginginkan matriarkal lebih diakui di masyarakat. Untuk itu dia buktikan dengan sikapnya terhadap Nik kekasihnya bahwa dia dapat menguasai Nik tanpa harus masuk agama Nik. Tanpa disadari A larut dalam putaran batin yang pelik sampai pada titiknya dia menyadari bahwa patriarkal hanya merupakan kenyataan sejarah. (Goodreads)
“Aku selalu merasa ada yang tidak adil setiap kali manusia diterapkan dalam skala nilai kesempurnaan. Itu menempatkan manusia dalam hirarki kesempurnaan. Membayang sebuah kontes di mana amnusia dinilai akumulatif baik penampilan fisik, perilaku, maupun intelektualitasnya akan menghasilkan pemenang–mereka yang mendekati sempurna: rupawan, pintar, cerdas, elegan, dan barangkali juga berbudi–serta manusia pecundang –mereka yang buruk rupa, tolol, cacat, tidak terpelajar, kikuk dan barangkali juga pendengki. Dalam hidupku aku memang bertemu manusia-manusia yang begitu kontras. Ada yang sudah keren, pintar, kaya, berbakat, dan baik pula. Ada yang sudah jelek, miskin, bodoh, pengkor, pece, iri hati, dan jahat pula. Betapa tak adil dunia. Dan, betapa mengerikan bahwa manusia masih membikin kompetisi untuk merayakan ketidakadilan itu. Hirarki kesempernuaan.”  (Ayu Utami, 2013:60)

Meskipun di awal, saya teteap menikmati cerita si A yang masih tetap sangat merdeka dengan hidupnya, namun tetap, saya berhenti di tengah halaman buku ini. Di buku ini saya merasa dia seperti kehilangan jalan hidup. Labil sekali. Tidak bertanggung jawab pada pembacanya (KZL). Kemudian saya menyimpulkan bahwa, ia hanyalah seorang perempuan kesepian yang sedang galau dan berhasil menulis puluhan essay. Kemudian saat moodnya berubah, dia seenaknya menulis essay terus menerus, yang sungguh sangat bertentangan dengan apa yang dia tulis di essay essay sebelumnya (haha, saya kesel, kemudian berhenti membaca)

Ibarat jatuh cinta, perasaan saya saat membaca buku ini adalah, mencintai terlalu dalam, kemudian dikhianati. Sakit.

 “Dalam hati kecilku aku tahu bahwa manusia tidak pantas diterapkan dalam skala nilai. Manusia tidak akan bahagia dibegitukan. Skala penilaian akan menghasilkan manusia super dan manusia pecundang.” 
― Ayu Utami, Pengakuan: Eks Parasit Lajang
 
Begitulah, satu titik dalam hidup kita, manakala semesta mendukung, dan kita pun berubah tanpa kita rencanakan.
Kita bisa menyukai sesuatu yang sebelumnya kita sebal.
—  Ayu Utami - Si Parasit Lajang

 Pada akhirnya yang kita butuhkan adalah kesadaran. Bukan paksaan.
—  Ayu Utami dalam Si Parasit Lajang

Namun, menurut saya, ketiga buku ini adalah buku yang membuat saya jatuh cinta. 

dan PADA DASARNYA Perempuan adalah perempuan. ya, Perempuan adalah perempuan. Perempuan NORMAL mana yang tidak menginginkan ciuman hangat di pagi hari dari seorang laki-laki yang mereka sebut sebagai suami?


Well, ada hasrat untuk membaca karya Ayu Utami yang lain seperti Bilangan Fu, Saman, dan lainnya tapi belum kesampaian.

Buku-buku ini untuk saya sangatlah menarik. Intinya, kosongkan dulu pikiran dan kecondongan kepada suatu sudut pandang. Apalagi agama (hahahaha). 

Sekian.

You Might Also Like

1 COMMENT