Perbedaan

March 18, 2016




Waktu kecil...

saya dibesarkan di keluarga muslim, namun tak satupun yang mengajari saya mengaji atau mengenal tentang apa itu islam.


Bersekolah di sekolah yang mayoritas siswanya kristen atau katolik membuat saya semakin jauh dari bagaimana harusnya menjadi seorang muslim pada kala itu. Tidak bisa mengaji sampai sekolah menengah, tidak tahu bagaimana cara sholat sampai akhir sekolah dasar.

Menginjak sekolah menengah. saya bertemu dengan teman-teman yang mengajari bagaimana sholat yang benar. mengaji. Fiqih dan sebagainya. Tentu saya bukan orang yang terlalu paham seperti kawan-kawan yang lain. Namun setidaknya, saya tahu apa yang harus saya pertahankan, dan sampai kapan saya harus mempertahankannya.

Semasa kecil, sebelum 15 tahun.
Teman kecil saya, Merie dan adiknya Joshua. Yang merupakan saudara saya, ibunya berpindah keyakinan menjadi kristen protestan saat menikah. Tidak dengan paksaan, dia bilang, dia pindah karena dia ingin pindah.
Teman bermain saya, bermain masak-masakan, bermain lompat tali, bermain banyak hal. Sesekali saya membaca alkitab dengannya, bermain pianika dengan lagu rohani di gerejanya.

Hari minggu pagi, Tante (yang saya pangil "Mama" kala itu) sering mengajak saya ke gereja. Katanya "Mba echa ikut aja yuk, kasihan di rumah sendirian ngga ada temennya.". Romo yang baik, orang-orang gereja yang baik, saya masih ingat sekali. Ikut acara paskah mencari telur, menghias pohon natal, memegang salib, bermain tamborin di gereja.

Merie dan Joshua yang selalu ikut sholat idul fithri setiap lebaran meskipun hanya duduk mendengarkan ceramah.

Teman-teman di sekolah kebanyakan adalah keturunan Tiong hoa, saya sangat dekat dengan mereka.

Karena jarak sekolah yang jauh dari rumah, sering kali kami main terlebih dahulu sepulang sekolah sebelum saya dijemput. Main ke gereja di belakang sekolah. Bermain dengan "Poci", anjing penjaga sekolah yang juga seorang Nasrani. Menggendong anjing, sesekali dijilat manja olehnya. 

Teman-teman yang mayoritas berbeda agama dengan saya, berbeda suku dan ras pula.
pssst... Cinta monyet saya adalah seorang keturunan tiong hoa. Ayahnya konghucu, dan ibunya muslim.

Saya tidak merasa ada yang salah dengan itu.
Menyenangkan sekali, masa-masa dimana saya tidak pernah melihat salah satu ras, suku, atau agama membeda-bedakan manusia dengan label-label tersebut.

Muslim tidak harus membuat seseorang yang dia cintai menjadi sama dengannya. Tiong hoa tak harus melulu menuntut untuk selalu bersama Tiong hoa. Muslim yang main ke gereja atau sebaliknya. 

Apa yang salah dengan perbedaan?
Tidak ada, kecuali hanya membuat segalanya menjadi lebih Indah.

Tidak ada yang salah dengan agama, Tuhan pun tidak pernah salah.
Kita yang salah. Berusaha membela agama atas nama Tuhan. Tidak tahukan kalian bahwa Tuhan sudah terlalu kuat hingga tak perlu kalian bela?


Sekian.

You Might Also Like

0 COMMENT