Pretentious

March 24, 2016



"Kata temen gue disini, budaya di negara kita itu menuntut setiap orang buat pretentious. Semua dituntut untuk sempurna, dan kategori sempurna itu cuma satu. Sama semua. Orang baik itu begini-begini. Kalo nggak sama dengan kategori itu, berarti dia bukan orang yang baik sesuai kategori orang-orang di negara kita. Jadi, orang cenderung pura-pura, takut bakalan diomongin. Karena orang-orang di negara kita juga lebih seneng ngomongin urusan privacy orang daripada kualitas orang itu dari apa yang udah dia kerjain."

pretentious

adjective  pre·ten·tious  \pri-ˈten(t)-shəs\
having or showing the unpleasant quality of people who want to be regarded as more impressive, successful, or important than they really are


Di atas adalah sepenggal obrolan saya melalui telephone dengan teman saya di belahan bumi yang lain, yang jelas dia tidak sedang di negara saya berasal. 

Disini, sering kali saya merasa sendirian. Sendiri tidak secara literally tapi sendiri dalam konteks yang lain. Pernah dengar kata orang "Satu teman yang bener-bener paham lebih baik daripada ribuan teman yang tidak memahami kita sama sekali"?. Well, its crowded here, but you cant hear anything and you cant feel anyone around.


Ternyata perasaan galau itu ngga cuma saya rasakan, melainkan beberapa teman yang lain di negara lain pun merasakan hal yang sama. Dan entah mengapa, meskipun kami terpisah jarak yang sangat jauh, saya sangat nyaman bercakap dengan mereka. Telfon sejak sore hari hingga dini hari. Kami menikmati semua obrolan kami, karena kami mengalami hal yang sama. 
Kami berbicara tentang bagaimana kami membangun prinsip prinsip kami sendiri.
Kami berbicara tentang bagaimana kami bertahan dengan segala yang telah kami lalui.

Dan setelah telephone dimatikan, saya merasakan kosong dan sesal "Andai dia ada disini".

Well, makes a friend is simple. But having a friend who understands you is not that easy, though.

betewe, balik lagi ke omongan saya sama temen saya beberapa hari yang lalu...

Memang benar sih, karena saya dibesarkan di culture yang menuntut saya untuk menjadi "orang sempurna" membuat saya merasa sangat munafik. Berpura-pura, mengepress sesuatu yang saya senangi hanya demi terlihat baik di depan orang lain. Well, Setelah beberapa bulan saya tinggal di luar negeri, saya merasakan bahwa culture pretentious amat sangat besar di lingkungan saya dulu. Sosok sempurna sudah ada patokannya. Dan percaya atau nggak, culture itu masih bakalan nempel terus sama kita kalo kita gaulnya sama orang yang gitu-gitu aja.

Ngerasa ngga?
Segala sesuatu di sekitar kita, semua sudah terpatok secara rigid.
Kategori Bahagia, Kategori orang baik, Kategori anak nakal, Kategori anak pandai. Semua sudah diatur berdasarkan "apa kata orang".

Sempurna adalah A, selain A maka tidak sempurna, Jika ia menjadi B maka akan buruk, jika ia C maka akan hina. Apabila saya sebelumnya adalah A kemudian tiba-tiba menjadi B, serta-merta mulut orang-orang akan mulai melontarkan gosip kemana-mana. Selain pretentious, culture orang-orang lingkungan saya dulu adalah suka mencari kesalahan orang lain dan suka mengurusi urusan pribadi orang lain.

Kasihan, pekerjaannya kurang banyak nampaknya.

Namun, untuk lepas dari culture itu ternyata nggak gampang juga. Saya masih takut apa kata orang. Saya belum bisa menjadi diri sendiri. Saya masih melakukan sesuatu to impress others. Seperti layaknya jebakan!

Kadang kita lupa kalau sebenernya manusia itu diciptakan berbeda-beda. Kita bukan seragam sekolah yang harus sama semua. Kita punya hati, kita punya akal. Akal dan hati tiap manusia punya cara kerjanya sendiri.

Kita kadang lupa bahwa mereka adalah orang lain. Sehingga kita ngga punya hak apa-apa atas apa yang pribadinya lakukan.


Saya sedang mencoba lepas dari culture ini. 
Setidaknya saya berusaha untuk tidak membohongi diri sendiri.

You Might Also Like

0 COMMENT