Be realistic!

April 15, 2016

Saya selalu percaya kalau di dalam jiwa kita ada dua energi yang berbeda. Energi yang mengajak kita untuk selalu melakukan hal baik dan kebaikan, dan energi yang selalu mengajak kita melakukan hal buruk atau keburukan. Benar adanya menurut saya tentang prinsip yin dan yang pada jiwa manusia. Dan tugas kita sebagai si-pemilik jiwa adalah membuat kedua sisi ini seimbang.

Im beautiful in my way cause God makes no mistakes, I was born this way...


Jika kita percaya Tuhan, dan percaya bahwa Dia mengatur segala sesuatu yang ada dalam hidup kita, harusnya kita percaya pula bahwa sama halnya dengan seorang Ibu yang tak akan pernah menyakiti anaknya sendiri, maka Tuhan akan lebih baik dari itu. Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu yang buruk kepada kita, kekurangan pasti ada, namun bergantung darimana kita melihat kekurangan itu.

Read the article from pict below:

Saya masih ingat waktu kecil dulu, Mbah Kakung (Rahimahullah) selalu bercerita tentang masa mudanya. Mbah Kakung lahir pada masa perang dunia kedua, dimana beliau terlahir pada generasi terbaik. Pada jaman itu, orang tidak pernah berpikir tentang kekurangan mereka, setidaknya mereka selalu bersyukur pada apapun yang mereka miliki meskipun hanya singkong rebus untuk makan satu kali sehari.

Mbah Kakung (rahimahullah) pernah bercerita bagaimana bahagianya beliau bermain di sungai bersama teman-temannya. "Jaman semono, wong iku ora pernah mikir neko-neko. Pokokke seneng terus direwangi ngarit neng alas karo angon wedus" (Jaman dulu, orang-orang ngga pernah mikir macem-macem. Pokoknya cuma seneng walaupun cuma cari rumput dan menggembala kambing)

Saya lahir di desa, saya pernah mandi di sungai, mencari kepiting sungai, hampir tenggelam di sungai, main layang-layang di lapangan belakang rumah, menggembala domba tetangga, main gundu. Hidup sangat indah! Saya bangga saya pernah hal-hal seru itu sewaktu saya masih kecil!

Saya adalah generasi Y, generasi 70-90an, generasi yang bisa disebut menjadi "kelinci percobaan". Pada dua dekade kehidupan saya, jaman telah banyak berubah, sangat cepat. Saya rasa, perkembangan jaman, khususnya teknologi yang luar biasa inilah yang justru merupakan sumber "ketidak bahagiaan" bagi beberapa orang.


Generasi saya adalah generasi super. Super galau, super pretentious, super pandai pula (perkembangan teknologi yang luar biasa juga tak lepas dari partisipasi generasi kami). Masa peralihan dari bermain di luar rumah ke bermain seharian di kamar menghadap layar tv dan memegang joystick menurut saya membuat jiwa kita mengalami "culture shock", yang kemudian kita jadi terbiasa olehnya dan enggan untuk keluar dari situasi tersebut. Let's just call this situation as a COMFORT ZONE.

Comfort Zone adalah dimana saya merasa sudah nyaman dengan segalanya yang saya miliki. Resikonya, saya menjadi lebih tertutup, saya merasa saya sudah cukup dengan semua yang saya miliki, saya menjadi lebih careless, susah bergaul dengan orang baru, dan saya menjadi TIDAK REALISTIS.

Mengapa tidak realstis?
Karena bagi saya, berfikir realistis menimbulkan lebih banyak konflik daripada saya berfikir secara "safe zone style". Disinilah, posisi saat hati dan otak tidak bekerja sama dengan baik. Karena orang-orang yang nyaman di safe zone-nya, menghindari untuk berpikir lebih dan cover both side, biasanya dia akan mengutamakan hatinya terlebih dahulu. Ingat! Hati tidak dapat berfikir, disitulah kondisi kita akan semakin buruk jika kita tidak mengizinkan otak kita untuk ikut campur di dalamnya.


Saya sangat percaya. Tidak ada orang bodoh di dunia ini!. Tuhan tidak akan mungkin sekejam itu. Saya pun percaya Tidak ada orang polos di generasi saya, karena generasi saya adalah generasi super seperti yang saya katakan di atas. Kami adalah generasi yang tumbuh bersama dengan tumbuhnya teknologi, masih percayakan kamu jika ada orang polos di generasi kami? :)
Cuma ada dua pilihan, dia tidak dapat berpikir logis (bukan bodoh) atau ia kurang bisa mengontrol cara kerja hatinya. Jadi berhati-hatilah pada generasi kami, karena kami tidak mudah dipahami dan sangat sulit untuk men-judge-kami secara mentah-mentah.


Betapa besar dampak safe zone ya?!

Saya menulis ini karena saya pernah berada pada masa-masa di atas, dan bukan tidak mungkin saya akan berada dimasa itu lagi di usia 20an ini. Saya menulis agar suatu saat, ketika unsur yin dan yang saya tidak lagi seimbang, ini dapat menjadi pegingat bagi diri sendiri.


So, mau sampai kapan ada di safe zone?
lihat deh, di luar sana banyak sekali tempat yang menunggu untuk kamu kunjungi, banyak sekali orang yang menunggu untuk bertemu denganmu. Dan Tuhan, menunggu kamu untuk selalu bahagia dan selalu bersyukur atas apa yang telah Dia berikan padamu.

Good luck!
Happy Friday ^^

You Might Also Like

0 COMMENT