Salam Cinta Damai

November 09, 2016


Peace is not something you wish for; it's something you make ...:

Hola!

mungkin kalian berharap saya akan ngomong masalah 4/11 tempo hari? nggak. saya ngga mau ngomongin itu. Karena situasi lagi ngga stabil, apapun yang terucap tentang 4/11 pasti dapet komen negatif. Nulis se kalimat, dikomen se paragraf. Males juga baca timeline akhir-akhir ini.

Mending saya cerita yang lain yang agak sedikit mellow. 

Hari ini tepat 5 tahun yang lalu. saya masih aktif-aktifnya ngeblog alay. Dan blog yang paling sering saya kunjungi adalah blog kak Hans.  Saya sangat suka judul blog dia, "Good Morning, Freedom!", saya ngerasa walaupun judul ini terkesan biasa, tapi buat saya banyak artinya. Mungkin judul blog ini adalah salah satu hal yang selalu saya inginkan. 

Freedom. And until this time, I still don't know the meaning of the true freedom. But at least, step by step, we try to find what we want, what makes us happy. Everything that makes you happy, there what the freedom is.


ada dua blog yang setiap saya baca, saya merasakan keinginan untuk "bebas" di setiap kalimatnya. selain blog kak Hans, blog yang sering saya kunjungi adalah blog almarhum kak Ghani.  berbeda dengan Kak Hans yang saya ngga pernah ngobrol sama sekali, cuma sebatas pembaca setia blog dia, saya sudah lumayan sering ngobrol dengan Kak Ghani. Saya juga suka dengan judul blog kak Ghani, "Chasing the Pretty Rainbow" yang kemudian saya pakai di tagline blog saya. 

Mungkin saya sering banget ya nyebut kedua nama di atas? hehe. Tapi yaudah, gapapa.

Jadi sebenarnya, kak Ghani adalah teman ngeblog kakak saya. Dan kebetulan jaman itu saya masih ngeblog di wordpress. Dulu semacam ada grup blogger di wordpress. Jadi kenalan lah kita. (But you know what we wrote in our blog? You'll never imagine that I can be like this now! haha) Saya masih ingat beberapa obrolan saya dengan kak Ghani. Mulai dari betapa sedihnya dia saat ibunya sakit. sampai ke-dilema-an kami tentang apa yang terjadi di sekitar kami. 

Dulu, saya rajin sekali datang ta'lim (pengajian) just like he did. And someday we found that "something is wrong in here". Kami adalah jiwa-jiwa yang menginginkan perdamaian. Tanpa perpecahan, tanpa saling menyalahkan. Dan ternyata kami tidak menemukannya di sana. satu quotes kak Ghani yang saya ingat (semoga tidak menjadi fitnah pada beliau). 
"Rasanya ngga fair jika laki-laki baik hanya untuk perempuan baik dan perempuan baik hanya untuk laki-laki baik. Padahal sebenarnya laki-laki atau perempuan yang tidak baik sebenernya membutuhkan bantuan dari laki-laki atau perempuan baik"
saya mengamini apa yang dia bilang and it make sense. Tidak ada satupun orang yang ingin terlahir berbuat jahat kan? tinggal bagaimana kita menyikapi apa yang telah ia lakukan. Bukankah tidak bijak jika kita merasa baik baik saja, namun membiarkan mereka yang kita anggap tidak baik tetap melakukan keburukan itu?

Dari dulu saya memang ngga begitu suka labelling. Bahkan sebelum saya tahu tentang istilah labelling di pelajaran sosiologi. Bisa jadi, saya ngga suka sama perpecahan sejak kecil. Saya juga ngga suka sama sesuatu yang sebenernya salah tapi dibiarkan saja. Sampe waktu kecil pernah dipanggil Saras 008, pembela kebenaran dan keadilan haha

Saya ngerasa, label menyebabkan perpecahan. dan parahnya, beberapa label yang ada pada kita, sebenenrya ngga pernah kita pilih secara sukarela. Right after 5 minutes we were born, we got the nationality, the religion, the family name. And we struggle for it forever and ever but we never choose that labels on us. Saya kemarin mikir sebelum tidur (Im a type who can't think clearly during the day and think about the universe at night -_-), saya tidak pernah memilih untuk beragama islam. Saya beragama islam karena orang tua saya beragama islam, dan saya secara langsung menjadi muslim. Dan saya tidak punya pilihan untuk tidak memilih menjadi muslim hingga umur 20an saat saya dapat berpikir sendiri. Begitu pula orang-orang yang lain, kan?

Jadi inget filmnya Amir khan, PK. My kind of film banget. Dimana seharusnya manusia tidak melihat seseorang dari label yang tertera padanya. Seharusnya kita tidak melihat seseorang berdasarkan sukunya, rasnya, agamanya, melainkan melihat mereka dari apa yang mereka lakukan. Atau lagu John Lennon - Imagine, tentang harapan manusia melakukan segala hal karena memang ia ingin melakukannya. bukan karena surga, nereka, agama, negara, atau segala label yang ada padanya. 

yah... tapi saya mungkin hanya satu dari segelintir orang yang mikir kebanyakan tapi takut buat speak up atau udah pesimis duluan. Pokoknya, salam cinta damai. Kalau hidup damai aja enak kenapa musti sibuk sendiri membuat perpecahan?


You Might Also Like

0 COMMENT