Dua sisi

February 12, 2017




Malam ini saya mencoba berkontempelasi, mengingat masa lalu, mengingat beberapa orang yang pernah saya temui dan mengambil pelajaran dari pertemuan tersebut. Tiba-tiba aja, saat lagi asyik scrolling social media dengan berita yang gitu gitu terus, tetiba saya teringat pada guru matematika saya saat SMP dulu. Sebenarnya, guru matematika saya ini adalah tetangga saya, tapi karena saya anaknya rumahan banget dan antisosial banget kalo di rumah (bahkan ga pernah ke luar rumah) saya ngga pernah ketemu. Bapak ini adalah sosok yang ga akan pernah saya lupakan. Bapak selalu berangkat naik sepeda ke sekolah yang jaraknya cukup jauh. Biasanya, bapak dengan bangga mengayuh sepeda jengkinya, dengan kaca mata hitam dan peci. Bapak tidak pernah berhenti tersenyum setiap bertemu dengan orang-orang di jalan dan sekedar mengucap "sugeng enjing pak, badhe tindak sawah?"
Yang saya sangat hormati dari bapak adalah kerendahan hatinya. Bapak pergi ke sekolah dengan sepeda tua bukan karena dia tidak mampu, melainkan karena dia ingin. Bapak juga yang mengajarkan saya untuk selalu ingat kepada Tuhan, dengan cara beliau yang lemah lembut. Kadang sedih kalo inget, karena saya beberapa kali melupakan pesan-pesan beliau. Bapak juga lah yang membuat saya memiliki sudut pandang, bahwa dalam proses pengajaran, disamping ilmu yang sangat tinggi, kepribadian dan pendekatan itu sangat penting! Saya lebih enjoy bertanya tentang Tuhan dan agama kepada Bapak yang guru matematika, dibanding guru agama saya yang agak berlebihan. Satu pesan dari Bapak yang selalu saya ingat "teruslah merasa bodoh hingga kamu punya kemauan untuk terus belajar. Jika kamu sudah merasa pintar, maka kamu akan berhenti untuk belajar dan akan jadi pribadi yang sombong" saya masih ingat, Bapak ngomong kaya begitu pas saya dipanggil pribadi ke mejanya karena nilai ujian saya tiba-tiba turun jadi 75 setelah ketahuan Bapak kalau saya punya pacar hehe. Aah... jadi pengen SMP lagi... 

Setelah mengingat Bapak, saya mau ngomongin temen saya yang sekarang. Teman satu lab, sebenernya dia anak B3 di lab saya. Dia baru masuk ke lab April tahun lalu. Awalnya saya agak awkward sama dia, saya udah negatif thinking duluan, kalau-kalau dia anaknya super judgemental atau gimana. Oh ya, jadi temen saya ini adalah muslim Pakistan, stylenya selalu berabaya hitam, setiap hari. Awalnya agak sulit buat ngobrol sama dia, maklum, saya ga pinter buat makes new friend. Tapi lama kelamaan saya jatuh cinta sama dia. Anaknya super friendly dan lucu. Satu hal yang saya garis bawahi dan membuat saya menyalahkan diri saya karena terlalu negatif thinking sama dia, ternyata dia anaknya sangat toleran. Okay, kalo ngomongin satu kata, toleran, nampaknya akhir-akhir ini agak sedikit sensitif. jadi plis, be open minded ya baca tulisan ini :)
Meskipun dia dengan penampilan seperti itu dia ngga pernah menuntut. Maksud saya menuntut adalah begini perumpamaannya. Di sini memang ga gampang buat nyari makanan halal, apalagi kalau gaulnya ga sesama muslim. Dia sering main bareng-bareng anak Jepang, which is yang ga peduli sama halal-haram. Suatu waktu,kami pernah akan makan bareng yang disitu ga ada menu halalnya. Kebanyakan temen muslim yang saya kenal biasanya akan bilang "kalau makan disitu, aku ga bisa makan apa-apa, karena ga ada yang halal", yang kadang bikin kita-kita (apalagi yang ga paham tentang muslim) akan bingung dan merasa bersalah. Tapi dia beda. Dia ga bilang apa-apa sampai kita sampai di tempat makan. Saat kita semua udah mesen dan duduk di meja. Dia cuma mesen satu makanan yang kecil (miso). Dia ga bilang apa-apa, cuma bilang "aku udah kenyang tadi barusan makan", dan kita merasa "oh oke" dan lanjut ngobrol. tapi waktu saya pribadi nanya, dia baru bilang kalau dia ga bisa makan makanan yang ada di situ. Dan dengan senyum dia bilang "gapapa lah, kan kalian mau makan disini. Aku mah yang penting bisa ikut makan bareng". Terus saya langsung trenyuh dong :(. 
Cerita lain. Di sini emang udah biasa banget kalau party pasti nomikai, minum alcohol. Dia ga pernah protes atau komen apapun tentang kebiasaan kami. Even sesama muslim, dimana saya suka nakal, nggak melakukan apa yang dia lakukan haha. Saya pernah iseng nanya "hei, kamu ga risih kalo aku ngelakuin ini dan itu?". Dan dia jawab "nggaklah. kamu punya hidup kamu kok. Kamu bebas mau ngapain aja, aku ga ada hak buat ngatur. Tapi aku harap kamu ngerti lah suatu saat" sambil ketawa (anaknya receh banget soalnya ketawa mulu kadang saya juga bingung ._.) coba jelasin, gimana bisa saya ga sayang banget sama ini bocah?! Yang saya pelajarin dari temen muslim minoritas yang tinggal di negara non muslim adalah mereka lebih terbuka, mereka ga mikirin agama buat show off. but yes! Mereka sangat beragama dan sangat mencintai Tuhannya. Saya kadang malu juga kalo pas dia lagi curhat face to face sama saya dan menyebut nama Allah dengan penuh cinta :") She's my favorite! Gimana enggak? Setelah lulus Bachelor dari sini, dia bakalan lanjut ke Manchester University for PhD of cancer science. Like, whaaaat?! Saya langsung lompat peluk dia waktu dia pamer ke saya Letter of Acceptance nya! Envyyyyyyy, but super happy for her! Sedih bentar lagi pisah, saya beruntung ketemu sama orang kaya dia. 

Nah, yang terakhir yang mau saya ceritain adalah kakak dan kakak ipar saya. Hehe Jadi, sebenernya keluarga saya backgroundnya warna warni, ngga ada yang sama, termasuk papa, saya, dan mereka berdua. Dan kami ga pernah memaksakan keyakinan satu sama lain, paling nyindir-nyindir dikit sambil becanda. Saya tau, kakak saya sayang sama saya (cuma kadang emang susah dihubungin, paling dua bulan atau tiga bulan sekali haha). Saya masih inget, dia baru belajar pakai jilbab saat tahun kedua kuliah. Satu tahun setelah saya memakai duluan (and of course, dia orang pertama yang marah sama saya saat saya mengambil keputusan yang sekarang). Saya tahu bagaimana mereka berdua, ilmu mereka seperti apa, dimana mereka biasa ta'lim (karena dulu saya juga pernah ngaji di tempat yang sama). Tapi saya seneng dan bangga, bahwa meskipun mereka ingin saya kembali seperti dulu, mereka ga pernah maksa. Dan mereka juga ga pernah itu pamer-pamer dan riya tentang apa aja yang dia pernah lakuin untuk (yang kata orang) membela agamanya. Ya semoga saya tidak salah menilai ya..... 

Ya jadi sebenernya intinya saya mau ngomong. Bahwa untuk mengajarkan sesuatu, selain ilmu yang sangat tinggi, kepribadian dan cara pendekatan itu tak kalah penting! Ga bisa kamu minta orang untuk mencintai kamu tapi dengan cara yang kasar, meskipun kamu bersikeras seperti apapun. Yang ada orang malah jadi ilfil. Karena sebenernya, semua agama itu mengajarkan cinta kasih dan kedamaian. Tidak ada ajarannya menjelekkan satu sama lain, menjelekkan yang sesama keyakinan ataupun berbeda keyakinan. Dan ingat, Tuhan itu kuat dan super powerfull (yang ada saya minta supaya selalu dibela olehNya) apa iya Dia perlu kamu bela dengan cara yang seperti itu? Ataukah itu hanya fitnah belaka atas namaNya? *beneran nanya ini*

You Might Also Like

0 COMMENT