How to be single

April 12, 2017

Truth! Quote from the movie "how to be single.":

“Gue mencoba selalu hidup sehat dari sekarang, olahraga cukup, makan sayur dan buah yang banyak, kurangin makanan berlemak. Biar gue tetep sehat. Kayaknya gue bakalan hidup sendiri selamanya deh, jadi gue harus nyiapin diri, karena kalo gue sakit ngga akan ada yang ngurusin gue”. -T


Hola!
Sebenernya udah lama kepikiran pengen nulis tentang ini, tapi masih belom dapet momennya aja. Jadi semua berawal dari obrolan saya dengan beberapa temen lab saat sedang makan siang. Ada satu teman, sebut aja namanya T. Gadis yang super enerjik dengan segala macam healthy lifestyle-nya. Jadi pas kita lagi makan siang, kita lagi ngobrolin tentang relationship stories dari anak-anak lab. Tentang betapa sasuganya temen Jepang saya, yang pacaran 10 tahun LDR tapi mereka belom pernah ketemu sama orang tua satu sama lain. Betapa ribetnya komunikasi mereka yang sampai kami anak-anak international bingung. Yah begitulah, 11-12 sama love stories ribet ala dorama Jepang. But we wish them luck kok. Hehe
Nah! Tiba-tiba kami ngegodain si T buat cari pacar. Si T ini adalah gadis original a.k.a ngga pernah pacaran sama sekali selama 29 tahun. Dan kerennya, kami nggak pernah ngelihat dia galau (gatau kalo di belakangnya gimana). Saya pernah dikomenin sama dia gara-gara masang status galau di Instagram, kurang lebih gini ngomongnya ‘Kenapa sih lu galau banget? Lu masih muda, masih 24 (waktu itu masih 24), nikmatin ajalah waktu lu buat banyak-banyak me time”, katanya. Memang, si T nggak pernah kelihatan galau sama sekali. Hidupnya kelihatan asik dan produktif banget. Dia obsesi banget sama makanan sehat, bahkan sekarang dia udah sedikit demi sedikit mencoba menjadi vegan, dalam seminggu dia olahraga badminton dua kali, malam hari kalo lagi bosen dia memilih untuk berenang at least 1 jam di dekat tempat tinggalnya. Seru kan!
Tapi tiba-tiba ngga ada hujan, ngga ada apa, saat kita lagi makan siang bareng dia nyeletuk sebuah kalimat yang bikin saya dan teman lain jadi hening sejenak.
Dia bilang “Gue mencoba selalu hidup sehat dari sekarang, olahraga cukup, makan sayur dan buah yang banyak, kurangin makanan berlemak. Biar gue tetep sehat. Kayaknya gue bakalan hidup sendiri selamanya deh, jadi gue harus nyiapin diri, karena kalo gue sakit ngga akan ada yang ngurusin gue”. *Kemudian kami hening*
“Dih ga boleh gitu dong. Nanti pasti bakalan ada kok yang dateng, laki-laki yang mau nerima elu apa adanya, percaya deh!”, timpal temen saya yang udah 4 tahun pacaran sama Nihonjin.
“Nggak ah, ngga tau lagi gue. Gue udah hidup 29 tahun tapi ngga ada yang pernah suka sama gue. Jadi ya udah, siapin diri aja buat hidup sendiri daripada kebanyakan ngarep”, kata dia sambil ketawa.
Dari obrolan ini, boleh nggak kalo saya simpulkan bahwa sebenernya nggak pernah ada perempuan yang nggak galau? Lalu bagaimana dengan single, beautiful, happy, and independent woman yang lagi ngetrend sekarang?
Well, pada dasarnya semua perempuan ga mau hidup sendirian. Siapa sih yang mau hidup sendirian? Lu punya keluarga, bokap, nyokap, sodara, tapi... apa cukup? Pasti ada satu ruang di hati kita yang kosong dan butuh seseorang buat mengisinya, ye kan? *ngomong apaan gw*


Intinya, sekuat apapun kita, laki-laki ataupun perempuan, kita tetap butuh yang namanya partner hidup. Tapi, ngomong-ngomong partner hidup. Saya jadi kepikiran omongan si T. “udah capek ngarep, sehingga memutuskan buat hidup lebih baik”, ngga ada salahnya sih. Daripada galau mikirin kenapa si partner nggak dateng-dateng. Such a waste of time!
Flashback ke jaman masih belum menstruasi (a.k.a jaman kecil), saya mungkin kebanyakan nonton film Disney Princess kali ya, yang pada umumnya bercerita tentang putri cantik yang akhirnya happy ending dengan pangeran ganteng. Jadi pola pikir udah tertanaman sejak kecil, bahwa perempuan nantinya akan bertemu dengan seorang lelaki yang cinta sama dia secara tiba-tiba, kemudian ngajak nikah dan hidup bahagia. Dan setelah saya besar, sh*tlah, ternyata idup nggak segampang itu.


Saya pacaran udah 4 kali, dan semuanya gagal, dan kami putus baik-baik. Dipikir-pikir, mana ada putus baik-baik sih? Kalo baik-baik mah ngga bakalan putus bukan? Hehe. Pacar pertama pas jaman SD, gimana kalo yang ini ngga usah dihitung aja? Haha. Pacar kedua jaman SMP, masih kecil dan muda belia, putus karena saya dan dia beda SMA. Jadi yaudah, putus gitu aja. Pacar ketiga jaman SMA, putus karena saya masuk organisasi ukhti-ukhti yang memilih ngga pacaran sebelum nikah. Dan pacar terakhir jaman kuliah sampai saya berangkat ke Jepang, putus mainly karena LDR, dan beberapa alasan.


Semua mantan alhamdulillah kabarnya baik, dua di antaranya akan menikah tahun ini. Mungkin kesannya agak alay, karena namanya mantan yaudah mantan aja, udah nggak ada urusan lagi. Tapi saya cukup shock dan agak sedih saat mereka akan menikah. Gimana ya… rasanya… hmm… Saya seneng kok, akhirnya dia menemukan pasangan hidup yang pas, labuhan terakhir hatinya, rumah untuk jiwanya. Semoga dia selalu bahagia dengan apapun pilihan hidupnya.


Yang bikin sedih sebenernya bukan karena si mantan nikah atau saya masih ada rasa atau gimana. Yang bikin sedih adalah rasa bersalah dan self worth saya yang tiba-tiba jatuh drastis ngga karuan. Honestly said, sejak kecil saya emang ada masalah sama self worth, sangat bermasalah. Sulit buat saya kadang untuk mengapresiasi diri sendiri.


Saya jadi mikir, waktu-waktu kemarin yang saya jalanin sama dia beberapa tahun, apakah nggak seindah itu ya buat dia? Apakah saya tidak pernah memberikan apa yang pasangannya sekarang berikan? Apa saya seburuk itu? Kenapa ya? Apakah saya tidak cukup baik untuk dipertahankan atau dicintai? Am I that kind of girl that man never fall in love with? *tsailah


Masih inget nggak saya nulis review tentang film 500 days of summer? Saya nonton film itu berkali-kali, dan masih tetap mengatakan “yes, this is my movie!” beberapa tahun lalu. Dan akhir-akhir ini, saya rasa film itu udah ngga relatable sama saya, karena saya sekarang SINGLE. Singkatnya, menurut saya, pesan di film itu bahwa selama apapun kita pacaran (atau hubungan lain yang gajelas statusnya) belum tentu dengan orang tersebutlah kita menikah (menikah harusnya diartikan sebagai hubungan jelas dan once for a lifetime ya!). Wanita akan lebih memilih mereka yang berani ngajakin nikah daripada mereka yang cuma berani ngajakin nonton, jalan-jalan, ngajakin pulang malem ngga jelas. Jadi, sebagai laki-laki memang sepantasnya harus punya semangat yang lebih lebih dibandingkan wanita, punya inisiatif lebih. Kalo masih inget, si Tom kan sebenernya pengen jadi arsitek dan lulus dari sekolah arsitek, tapi dia malah kerja di perusahaan greeting card karena dia “terima nasib”. Dan Summer bilang “If you wanna be an architect, go for it!”. Mungkin film Summer ini similar to cerita saya sama mantan dan akhirnya memilih jalan kami masing-masing.


Beberapa bulan lalu ada berita heboh, tentang cewe yang ninggalin pacarnya karena di lamar sama anak salah satu tokoh negeri ini. Dengan alasan “siapa yang berani ngajak nikah duluan”. Hmm, sebenernya rasional sih. Cuma, menurut saya cara media memberitakan yang terlalu berlebihan. Yang seolah-olah menyalahkan mantan si cewe yang ngga ngasih kepastian. Kenapa semudah itu sih? Apa kalo udah pacaran lama, trus tiba-tiba ada yang ngajak nikah cewe terus bisa kabur begitu aja? Is not that simple! Just simply said that they are not meant together! Mau gimana juga, mau siap nikah atau nggak siap nikah, semua bakalan kalah sama takdir. Ye kan?


Minggu lalu saya baru aja tamat baca buku lama “Men are from Mars, Women are from Venus” karya John Gray. Dan saya nyesel banget, kenapa saya nggak baca buku ini dari dulu?!!. Setelah baca buku ini, saya sadar. Dalam relationship yang sebelum-sebelumnya, saya boleh di salahkan karena beberapa hal. Saya tidak memahami laki-laki waktu itu. Saya sampe nandain buku ini di point-point yang menurut saya pas banget sama pengalaman saya, dan nggak pengen hal tersebut terulang kembali. Beberapa diantaranya yang saya tandain adalah:
  1. Laki-laki mengharapkan perempuan untuk memiliki pola pandang, cara berkomunikasi, dan berlaku layaknya laki-laki. Perempuan mengharapkan laki-laki untuk merasakan, berkomunikasi dan memberi respon layaknya perempuan. Tapi kita semua lupa, kalo kita adalah dua makhluk berbeda, sangat amat berbeda.
  2. Laki-laki menghargai kekuatan, kompetensi, efisiensi, dan penghargaan. Mereka selalu pengen buktiin kalo mereka punya kemampuan untuk develop their power and skills.
  3. Perempuan lebih menghargai cinta, komunikasi, kecantikan, dan relationships. Mereka paling demen supporting, helping, and nurturing one another. Their sense of self is defined through their feelings and the quality of their relationships.
  4. Dalam setiap hubungan, rata-rata perempuan menginginkan laki-lakinya berubah menjadi lebih baik. Namun sudut pandang “lebih baik” ini somehow terlalu subjektif. Lebih baik menurut perempuan belum tentu lebih baik untuk laki-lakinya.
  5. Laki-laki butuh pengakuan. Pengakuan kalo dia bisa melakukan segalanya sendirian. Kasih dia waktu to prove that he can do it without your help. Sementara perempuan butuh pengertian. Semua perempuan pengen banget dimengerti, didengerin pas lagi cerita atau ngomel, and guys have to know how to control the situation saat perempuan lagi butuh perhatian.
  6. Sekali kelemahannya diketahui oleh prempuannya, laki-laki ngga akan mau melakukan hal yang sama sesuai saran perempuannya. Dia ngga akan pernah mau dibawah kontrol perempuannya. Makanya, saat dia pergi ke tempat lain, dan ketemu sama perempuan lain yang lebih menghargai effortnya, dan dia akan membuktikan bahwa dia bisa melakukan suatu hal sendiri dengan kekuatannya. Maka dia akan memilih perempuan lain tersebut, yang nggak pernah tahu kelemahannya. Because, men are men, and women are women, we have to accept it :)


Dari membaca buku ini, saya kaya lagi mengkoreksi hidup. Beberapa kesalahan yang saya lakukan di relationship saya sebelumnya. Buku ini recommended banget lah pokoknya, semacam kamus yang bisa dibaca kapan aja kalau memang lagi ada masalah sama pasangan.


Ngomong-ngomong tentang pasangan, sebenernya beberapa minggu lalu temen saya, si Pink, juga udah nulis tulisan yang bagus banget tentang how man and woman work together at home. Menurut saya, tulisan Pink kali ini adalah tulisan terbaiknya selama ngeblog haha. Di postingan blognya #27 Semua juga capek!, Pink cerita tentang gimana dia membantu Nesya, istrinya. Pink dan Nesya ini memang orang tua baru, jadi kebayang sih happy dan repotnya ngurus baby. Saya suka banget statement dia yang ini nih:


Emang klausul darimana sih yang mewajibkan istri harus melayani suami. Saya nggak paham yang gini-gini. Ya, jadi suami juga tau dirilah. Mbok yang mandiri dan peka gitu lho. Seakan-akan urusan rumah adalah urusannya istri semata. Padahal yang namanya rumah yo  ditinggali berdua, ya berarti apa yang terjadi di dalamnya ya tanggungjawab berdua. Bukan tanggungjawab salah satu pihak aja. Bisa membantu meringankan beban-nya Nesya adalah sebuah kenikmatan sendiri sebenarnya. Karena kalau dia bahagia dan rendah stres, tentu kualitas ASI-nya akan baik dan berujung pada tumbuh kembang si bocah yang lebih baik juga. Rentetan dampaknya cukup panjang kalau mau ditelaah lebih lanjut. Bantuan sekecil apapun untuk meringankan beban si doi yang lagi sibuk-sibuknya menyusui akan sangat berarti dan membuat mood berubah 180 derajat. Menurut saya sih, nggak ada pekerjaan yang harus dibatasi hanya berdasarkan gender tertentu. Cuma ada dua yang nggak bisa digantikan oleh laki-laki yaitu menyusui dan melahirkan. Selain itu, ya jenis pekerjaannya bisa dilakukan oleh kedua belah gender. Jadi, nggak perlulah itu, minta-minta dilayani ini itu. Emang si bapak-bapak ini kalau udah nikah harus banget gitu ya dilayani ini itu sama istrinya. Ha kalau gitu, ya mending cari ART aja, nggak usah nikah le.


Saya masih inget nih, beberapa waktu lalu ada meme tentang istri. Salah satu kalimatnya menyebutkan bahwa “enak punya istri, nggak usah cari pembantu”. What the heck! Saya sih ngga mau ya sama laki-laki yang menyamakan saya (sebagai istri nanti) dengan pembantu. Dan saat saya posting komen saya di sosial media, ada aja laki-laki yang ngomenin saya Feminis! Kalo emang begitu, Yes I am a feminist, but I don’t hate man. Tapi inget, feminis ngga cuma perempuan, laki-laki juga bisa jadi pro feminism, Pink contohnya.


Okay, kita balik lagi ya ke cerita single. Beberapa waktu saya nonton film “How to be single” dan “He is just not that into you”. Sebenernya keduanya berasal dari buku karangan Liz Tuccillo, tapi setelah saya mulai baca buku How to be single, kayaknya ceritanya beda banget sama bukunya (saya belom selesai baca). Tapi pas nonton film ini, saya merasa “yes! This is my movie!”. As a single woman, cerita di film ini relatable sama kehidupan saya yang sekarang. Pertama kali nonton How to be single, saya bener-bener emotional banget. Karena saya sangat mellow, saya nangis banget pas nonton film ini. Like, “Why is Alice is soooooo meeee??!!!”.

How to be single, Alice:


Mau spoiler boleh ya?
Jadi di film How to be single (2016), tokoh centernya adalah Alice, yang udah pacaran lama sama cowonya selama kuliah. Suatu waktu, Alice ngerasa stuck dan ngerasa ngga punya hidup dia sendiri karena selama ini hidupnya selalu dijalanin bareng si cowonya. Akhirnya, Alice meminta cowonya untuk break dulu dari hubungan mereka. Alice akhirnya pergi ke New York, dan memulai hidup baru sebagai seorang single. Disana dia mencoba kehidupan barunya sebagai single, salah satunya mencoba pergi club dan kenalan sama cowo lain. Alice ngga pernah bisa namanya flirting atau mulai kenalan duluan sama cowo, she’s always suck at this. Akhirnya, Alice ngehubungin cowonya lagi dan bilang “Im done! I think I am better with you, I can’t be single. Im done from this break”. Dan ternyata, cowonya udah ketemu cewe lain………………………………………….. Setelah itu, Alice selalu obsesi dengan “being in love”, dia bukan tipe orang yang demen short term relationship. Tipikal cewe yang kalo udah deket sama cowo, bisa ngarep dan mikir sampe kejauhan. Beberapa kali deket sama cowo, but it doesn’t work.


Disamping Alice ada, Meg, kakaknya. Yang cinta banget sama kerjaannya sebagai dokter. Meg pernah punya pacar and he’s cheating on her. Setelah itu, dia nggak mau lagi in a relationship. Tapi, sebagai wanita normal, Meg pengen banget punya anak. Akhirnya dia memilih untuk mencoba inseminasi. Ada juga Lucy, yang mencari partner untuk long term relationship, tapi di dating app. Which is sebenernya aneh banget. Dan yang terakhir ada the party life, Robin. Cewe yang paling menikmatin ke-single-annya dan selalu enjoy dengan one night stand. Robin adalah orang yang selalu encourage Alice selama dia di New York. Lebih lengkapnya nonton sendiri deh. Hehe. Tapi yes, saya rasa film yang kaya begini ini adalah my kind of movie untuk saat ini.


Selama di Jepang, saya pernah mencoba kenalan sama beberapa cowo. But I am just like Gigi di film “He is just not that into you”. Yang selalu mencoba kenalan sama cowo, dan ngarep that he will call you someday. Then finally I realize that He’s just not that into me. Saya pernah nyoba iseng main di dating app like Tinder. And I realize that this is not my things! I am still into being in love, having long term relationship, getting married, having a small yet happy family. I don’t have time and courage to “just play”. Then I decided to stop semua yang namanya dateng ke welcome party atau main dating app.  Pernah ada yang bilang sama saya “Sebenernya cari pacar mah gampang aja loh kak, tergantung kitanya aja maunya yang kaya gimana”. Well, saya ngga mau sih capek capek buat ngerasa hepi dan sedih dalam jangka waktu yang singkat. But people have choice, saya ga ngejudge bagi yang memilih short term relationship.


Mungkin in terlalu cheesy atau gimana. Tapi saat ini saya lebih memilih baca buku tentang how to love myself more than what I did before. How to be single, beautiful, happy, and independent woman. Karena memang kalo terlalu obsesi sama being in love bakalan cuma buang-buang waktu aja. Honestly said, saat masih jadi ukhti-ukhti dulu, mimpi terbesar saya cuma pengen nikah di usia 21 tahun, punya anak, dan jadi ibu rumah tangga seperti kakak saya. Tapi, saya ternyata punya cerita hidup saya sendiri, sekarang udah 25, dan tahun ini akan 26 tahun! Bahkan seumur hidup saya nggak pernah nyangka saya akan single sampai umur 26 tahun! Hahaha


Yang jelas, saya mencoba tetap bersyukur, beautiful, happy, and independent sampai tiba waktunya. Kalo emang bakalan kaya yang temen saya si T bilang akan terjadi (amit-amit jangan sampe yawla), yah at least saya udah siapin beberapa bucket list untuk mengisi ke-single-an saya setelah umur 30 tahun. Pelihara kucing dan anjing, atau mungkin bahkan mencoba inseminasi juga ide yang bagus! hehe

You Might Also Like

2 COMMENT