Hitam

April 19, 2017




Bukan masalah pilkada, tapi masalah intoleransi yang bikin saya kesel.
Saya kayaknya pernah cerita tentang ini sebelumnya. sebenernya males juga mau ngebahas lagi. Tapi saya heran sama orang-orang yang seperti terbutakan.

Dulu saya termasuk yang taat sekali dalam mengamalkan keyakinan saya. Saya remaja masjid yang lebih memilih nongkrong di masjid kapanpun saya ada waktu luang, dibanding bersosialisasi dengan orang banyak. Dulu, saya dan beberapa teman saya yang kami sebut "satu misi" biasanya memiliki pola pandang yang sama. Kami sama-sama mengatai orang yang tidak satu keyakinan dengan kami sebagai Kafir. Orang kafir pasti masuk neraka. Darah orang kafir itu halal. Seolah-olah memang tidak akan pernah ada tempat bagi orang kafir di pandangan kami.

Tidak hanya itu, saya merasakan bersama-sama kawan yang lain, menghakimi orang-orang yang satu keyakinan dengan kami, namun memiliki pola pandang berbeda, atau memiliki cara ibadah berbeda, sebagai seorang yang Sesat. Kami menyebutnya Liberal, kami menyebutnya penyebar syubhat, kami menyebutnya golongan yang tersesat. Mereka pun tidak akan masuk surga karena melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan Al-Quran dan hadits.

Pada saat itu, kami hanyalah domba-domba yang tunduk kepada apa yang dikatakan oleh pemimpinnya tanpa mencari tahu mana yang benar, mana yang salah.

Namun pada saat itu, mungkin setan yang baik hati datang kepada saya. Membuka mata saya untuk melihat hal-hal yang dikerjakan saudara saya yang kami sebut sebagai Kafir. Saya mengamati mereka, mereka sibuk menyantuni anak yatim, memberikan bantuan kepada fakir miskin, mereka membantu dengan sepenuh hati tanpa memperhatikan latar belakang keyakinan orang yang mereka bantu. Saya masih ingat, saya bertanya kepada salah seorang murabbi saya . 
"Mengapa orang kafir memiliki hati yang sangat baik dan tulus membantu satu sama lain? Terlihat sekali keihklasan pada dirinya."
Kemudian ia menjawab "Karena Tuhan sudah memberikan kelebihan kepada orang kafir di dunia. Tidak kepada umat seperti kita. Contohnya, beberapa Yahudi juga dianugerahi kecerdasan yang luar biasa. Orang seperti kita memang akan mendapatkan balasan yang lebih dari itu nanti di kehidupan setelah ini"

Kemudian setan yang baik hati, semakin membuat saya berpikir kembali. Apakah memang demikian? Apakah memang orang kafir diberikan kelebihan sedemikian rupa dan kami tidak? Benarkah ini yang benar-benar ingin saya pegang erat di kehidupan saya?

Saya pernah berada di titik saya menghina Tuhan mereka. Menyatakan bahwa pilihan mereka untuk memeluk keyakinan tersebut adalah salah, dan mereka adalah orang Kafir yang merugi. Namun, beberapa teman Kafir saya mengomentari dengan komentar yang baik. Mereka tidak marah, tidak juga menghina balik. Kemudian berakhirlah saya meminta maaf kepada mereka.

Saya pernah berada di satu tempat, kami membuat lingkaran dengan murabbi di tengahnya. Saya pikir kami akan belajar tentang ilmu fiqih dan ilmu agama. Namun, ia bercerita tentang salahnya sistem demokrasi. Bahwa demokrasi adalah buatan Kafir, dan ikut dalam sebuat pemilihan umum dengan cara voting adalah salah satu bentuk dari tasyabbuh atau menyerupai suatu kaum.

Kemudian saya pulang ke rumah, mendengarkan cerita almarhum kakek saya sang mantan pejuang di jaman sebelum kemerdekaan. Saya menyesal beberapa kali saya berdebat dengan beliau hanya karena saya mengutamakan agama saya diatas segala macam ke-rasionalan yang ada. Saya buta, seperti menggunakan kaca mata kuda, bagi saya tidak ada pilihan lain yang lebih baik selain agama saya. Kemudian saya berpikir kembali, inikah yang benar-benar saya akan tanamkan dalam kehidupan saya?

Saya telah berteman dengan banyak orang dengan background yang berbeda. Saat saya masih aktif liqo', mereka mengajak saya sebagai pemilih pemula, untuk memilih suatu partai yang mengatas namakan keadilan. Karena partai itulah representatif dari agama saya. Dan saya mulai merasakan "ada yang tidak beres dengan komunitas ini"

Suatu hari, saya memutuskan keluar dari komunitas tersebut. Saya merasa saya adalah rubah yang tersesat di kerumunan domba-domba yang tunduk pada apa yang dikata oleh pemiliknya. Saat itu, saya termasuk orang berpengaruh dalam organisasi keputrian tersebut. Kabar menyebar cepat, dan beberapa nomor tak dikenal menghujani hp saya, dengan pesan yang sangat judgemental. Saya berkali-kali ditelfon tengah malam dan dicap sebagai Wahabi.

Saya pernah memutuskan memakai cadar dan purdah ke mejelis ta'lim. Saat itu, kawan saya bilang. Hijab warna-warni dan penuh hiasan hanyalah pakaian bagi mereka para pengikut ajaran Hasan Al-Bana yang sesat. Saya pernah pergi ke tempat menimba ilmu di ustadz yang berbeda, dan mereka menyatakan si fulan adalah sururi. Si fulan terfitnah sururi.

Kemudian saya berpikir kembali. Benarkah ini yang akan saya pegang seumur hidup saya? Benarkah saya akan memilih keyakinan saya diatas orang tua saya yang berdasarkan agama saya adalah seorang yang Kafir?

Kemudian saya memutuskan untuk meninggalkan dunia itu. Dunia yang membuat saya bagaikan burung gagak yang hitam. Yang membuat saya lupa dan tidak dapat berpikir logis. Dunia yang membuat saya tiada. Dunia yang membuat saya buta, bahwa tidak ada hal yang lebih baik di dunia ini kecuali, keyakinan saya. Tidak ada yang paling benar di dunia ini kecuali, teman-teman yang satu "misi" dengan saya. Hingga kami lupa, kami lupa untuk membantu sesama hanya karena kami yakin bahwa kami adalah golongan yang terbaik, golongan yang selamat, golongan yang akan masuk surga tanpa alasan apapun.

Ada teman yang pernah bilang, bahwa analogi terburuk dari agama adalah alat kelamin. Cukup orang lain tahu agamamu apa, tapi tak layak kamu menunjukkan agamu kepada orang lain. Tak pantas pula kamu memaksakan agamamu masuk ke dalam orang lain. Karena manusia dilahirkan berbeda, tidak ada yang pernah sama. Yang bisa kita lakukan cuma terima keputusan satu sama lain, menghargai satu sama lain. Apabila seseorang berbuat baik kepadamu, lihatlah dia sebagai pribadinya. Bukan karena apa agamanya, apa rasnya, kaya atau miskinkah dia. Begitu pula jika seseorang berbuat jahat kepadamu, dia jahat karena dia jahat. Bukan karena agamanya, bukan karena keyakinannya pula. 

Siang ini, ada yang bertanya pada saya "masihkah kamu mengimani agamamu?", "Apakah kamu masih seorang muslim?". Saya memutuskan untuk tidak menjawab satupun dari pertanyaan tersebut. Urusan agama adalah urusan saya. Urusan setelah mati adalah urusan saya. Tuhan tidak bodoh, Tuhan tidak perlu dibela karena Dia lebih hebat dari apapun yang ada di dunia ini. Saya berdoa kepadaNya dengan keyakinan yang saya yakini, dan kamu tidak perlu tahu tentang itu. Semoga Tuhan selalu memberikan rahmatNya kepadamu, kepada saya, dan kepada kita semua. Tuhan baik, saya percaya itu.

You Might Also Like

0 COMMENT